Majene  

Sarasehan Kepahlawanan di Unsulbar, Hidupkan Kembali Jejak Juang Demmatande

Foto: Momen kegiatan sarasehan kepahlawanan Demmattande di Unsulbar pada Rabu 27 Agustus 2025. (Dok. Aldo)

“Memaknai Jejak, Etos, dan Nilai-nilai Juang Demmatande Menuju Indonesia Emas 2045.”

ENEWS MAJENE •• Universitas Sulawesi Barat (Unsulbar) menjadi saksi sejarah baru dalam upaya melestarikan memori kolektif bangsa. Pada Rabu, 27 Agustus 2025, ratusan mahasiswa, akademisi, budayawan, dan tokoh masyarakat berkumpul dalam Sarasehan Kemerdekaan dan Kepahlawanan dengan tema “Memaknai Jejak, Etos, dan Nilai-nilai Juang Demmatande Menuju Indonesia Emas 2045.”



Acara yang digelar oleh Tim Sekretariat Dinas Sosial Sulbar ini menghadirkan diskusi mendalam, pameran sketsa perjuangan, hingga pembacaan puisi kepahlawanan, guna mengenang sosok Demmatande (Daeng Matande), pejuang asal Mamasa yang gigih melawan kolonialisme Belanda antara tahun 1872–1914.

Sejarah mencatat, benih nasionalisme Indonesia tak hanya tumbuh di pusat-pusat kekuasaan kolonial, tetapi juga lahir dari resistensi lokal di daerah.

Salah satunya perlawanan rakyat Pitu Ulunna Salu di Mamasa yang dipimpin Demmatande.

Pada 1907, ia bersama 300 pasukannya membantu Raja Balanipa, Ammana I Wewang, melawan agresi militer Belanda di Mandar.

Peristiwa itu menandai keterlibatan awal Demmatande dalam perjuangan menolak hegemoni kolonial.

Baginya, jatuhnya Mandar ke tangan Belanda berarti ancaman langsung terhadap kerajaan-kerajaan di pegunungan Mamasa.

Demmatande kemudian membangun benteng pertahanan di Salubanga, menggalang kekuatan rakyat, dan memimpin perang gerilya melawan kolonial.

Perlawanan yang ia pimpin pada 1914 tidak hanya dianggap konflik lokal, tetapi juga bagian dari mosaik besar perjuangan bangsa menuju kemerdekaan.

“Demmatande bukan hanya milik Mamasa atau Sulawesi Barat. Ia bagian dari rangkaian panjang perlawanan Nusantara yang berujung pada Proklamasi 1945,” tegas Adi Arwan Alimin, Ketua Masyarakat Sejarawan Indonesia Sulbar, dalam orasi kepahlawanannya.

Momentum sarasehan ini semakin bermakna karena pada medio 2025, Kementerian Sosial melalui Tim Peneliti dan Pengkaji Gelar Tingkat Pusat (TP2GP) telah menyatakan Demmatande memenuhi syarat untuk diajukan sebagai Pahlawan Nasional.

Proses pengajuan ini kini memasuki tahap penting: dibawa ke Sidang Dewan Gelar, Tanda Jasa, dan Kehormatan (GTK), sebelum akhirnya diputuskan Presiden Republik Indonesia.

Dukungan masyarakat Sulbar, khususnya melalui sarasehan ini, menjadi bagian penting untuk memperkuat legitimasi perjuangan Demmatande.

Selain diskusi akademik, sarasehan ini juga diramaikan dengan pameran ilustrasi perjuangan, pembacaan puisi bertema solidaritas Mandar–Mamasa, serta dialog interaktif yang dipublikasikan melalui media sosial.

Dr. Suryadi Mappangara, sejarawan yang menjadi keynote speaker, menekankan pentingnya melestarikan sejarah lokal sebagai bagian integral dari narasi nasional.

“Sejarah perlawanan lokal sering tersisih dari buku teks nasional. Padahal, tanpa kontribusi mereka, fondasi nasionalisme Indonesia tak akan sekuat hari ini,” ujarnya.

Sementara itu, Irvandi Demmatande, ahli waris langsung sang pejuang, menyampaikan apresiasi atas upaya kolektif masyarakat Sulbar yang terus mendorong pengakuan negara terhadap perjuangan leluhurnya.

Kegiatan yang dihadiri lebih dari 200 peserta ini melibatkan berbagai unsur, Unsulbar, STAIN Majene, Masyarakat Sejarawan Indonesia Sulbar, pegiat literasi, serta keluarga besar pejuang Demmatande.

Rektor Unsulbar yang membuka acara menegaskan, kampus harus menjadi ruang strategis untuk merawat ingatan sejarah.

“Generasi muda tidak boleh tercerabut dari akar sejarahnya. Dari sinilah lahir spirit untuk membangun Indonesia Emas 2045,” ucapnya.

Sarasehan ini meneguhkan kembali bahwa perlawanan Demmatande bukan sekadar catatan lokal, melainkan bagian dari anyaman besar sejarah bangsa.

Ia simbol keberanian melawan ketidakadilan, konsistensi menjaga martabat budaya, dan tekad mempertahankan hak-hak dasar rakyat.

Dengan semangat itu, masyarakat Sulawesi Barat kini menatap satu tujuan: agar pada 2025, Demmatande resmi dianugerahi gelar Pahlawan Nasional, sebagai bentuk penghormatan negara atas darah dan air mata yang ia curahkan demi kemerdekaan Indonesia. (*)

Laporan: Arfan Rinaldi