Bone  

Rijal Djamal dan Abdi Mahesa Ajak Pemuda Bone Dobrak Stagnasi IPM

Dari kiri: Budayawan Abdi Mahesa, Konten Kreator Rijal Djamal, Aktivis Perempuan Andini S, Ketua Komunita Rumah Baca RUMI Andi Geerhand, dan pemandu acara Dandi Wahyuddin. (Dok. Anles)

ENEWS, BONE •• Forum diskusi Dialektika Tumbuh Vol. #3 kembali diadakan pada Sabtu (29/11/2025) di Warlon.Id, Jl. Langsat, Kelurahan Jeppee, Kecamatan Tanete Riattang Barat, Kabupaten Bone dengan tema “Mendobrak Stagnasi IPM: Literasi, Teknologi, dan Budaya sebagai Motor Lompatan Peradaban.”

Acara ini menghadirkan empat narasumber dari berbagai bidang: Rijal Djamal (Rijal System), konten kreator dan public speaker Sulawesi Selatan; Abdi Mahesa, Budayawan Muda Sulawesi Selatan; Andini S., aktivis perempuan; serta Andi Geerhand, Ketua Komunitas Rumah Baca RUMI sekaligus inisiator platform tumbuhmembasuh.



Diskusi dipandu oleh Dandi Wahyuddin dan dihadiri puluhan peserta dari berbagai generasi dan organisasi kepemudaan (OKP).

Di tengah stagnasi Indeks Pembangunan Manusia (IPM) yang terus menjadi perhatian di daerah, forum ini menjadi wadah penting untuk mengevaluasi arah pembangunan manusia.

Rendahnya tingkat literasi, pemanfaatan teknologi yang belum merata, serta budaya yang seringkali hanya menjadi seremonial menunjukkan bahwa Bone masih memiliki tantangan besar untuk mencapai kemajuan peradaban.

Narasumber pertama, Andini S., menyoroti indikator IPM pada dimensi kesehatan, khususnya yang berkaitan dengan perempuan.

Ia menekankan bahwa ketimpangan akses terhadap kesehatan reproduksi dan layanan dasar masih menjadi masalah serius.

“Jika kesehatan perempuan diabaikan, jangan harap indikator kesehatan pada IPM bisa meningkat. Kualitas manusia lahir dari tubuh perempuan yang sehat, dihargai, dan didukung,” tegasnya.

Dari sudut pandang teknologi, Rijal Djamal menyatakan bahwa teknologi bukan hanya alat hiburan, tetapi juga instrumen untuk mempercepat peningkatan kualitas manusia.

“Anak muda Bone harus memasuki ruang digital tidak hanya sebagai penonton, tetapi sebagai kreator. Jika kita tidak menguasai teknologi, kita tidak akan pernah mengejar ketertinggalan,” ujarnya.

Sementara itu, Abdi Mahesa mengangkat pentingnya budaya lokal sebagai identitas yang menjaga keberlanjutan peradaban.

Ia mengingatkan bahwa modernitas tanpa akar budaya hanya akan menghasilkan generasi yang rapuh.

“Budaya bukan sekadar pelengkap upacara. Budaya adalah penuntun nilai yang membuat kita tahu siapa kita dan ke mana kita akan bergerak,” katanya.

Diskusi ditutup oleh Andi Geerhand, yang menekankan bahwa literasi harus menjadi inti dari perubahan sosial.

“Jika kita ingin Bone maju, kita harus memulainya dari manusianya. Literasi yang hidup, penguasaan teknologi, dan budaya yang kita maknai dengan sungguh-sungguh adalah tiga kunci yang tidak boleh dipisahkan,” ungkapnya.

Dialektika Tumbuh Vol. #3 menjadi momentum penting untuk memperkuat gerakan literasi, memperdalam pemahaman budaya, dan mengarahkan teknologi sebagai alat pemberdayaan.

Melalui ide-ide kolektif ini, peserta diharapkan mampu merumuskan langkah baru yang lebih progresif dalam meningkatkan kualitas pembangunan manusia di Bone.





Tinggalkan Balasan