ENEWS, BONE •• Satuan Reserse Narkoba Polres Bone berhasil mengamankan terduga admin akun Instagram @ReboneCity, yang disebut kuat terlibat dalam peredaran narkotika jenis sabu menggunakan sistem tempel.
Pengungkapan ini disampaikan langsung oleh Kasat Resnarkoba Polres Bone, Iptu Irham, dalam gelaran press release akhir tahun di Aula Mapolres Bone, Jalan Yos Sudarso, Kecamatan Tanete Riattang Timur, Selasa (30/12/2025).
Iptu Irham mengungkapkan, pengungkapan kasus tersebut merupakan hasil kerja keras dan sinergi berbagai pihak, termasuk dukungan Forum Bersama (Forbes) Bone.
“Alhamdulillah, kami dimudahkan dalam pengungkapan admin @ReboneCity yang mengedarkan sabu dengan sistem tempel,” ujarnya.
Dari hasil pengembangan perkara, Satresnarkoba Polres Bone mengantongi sedikitnya 295 nomor telepon yang diduga pernah berkomunikasi dengan jaringan Rebone City dalam transaksi sabu.
Bahkan, sejumlah nomor tercatat melakukan pemesanan berulang hingga dua sampai tiga kali transaksi.
“Data tersebut kami peroleh dari hasil penelusuran komunikasi yang terhubung langsung dengan jaringan Rebone City,” jelas Iptu Irham.
Ia pun mengimbau masyarakat yang teridentifikasi atau pernah terlibat dalam jaringan tersebut agar segera menghentikan aktivitasnya dan tidak lagi terjerumus dalam penyalahgunaan narkotika.
“Ini demi keselamatan diri sendiri, keluarga, dan masa depan,” tegasnya.
Namun demikian, pengungkapan ini membuka fakta lain yang tak kalah serius.
Akun Instagram @Goodstuff, yang disebut sebagai salah satu akun peredaran sabu terbesar di Kabupaten Bone, masih terindikasi aktif.
Dalam unggahan terbarunya, akun tersebut justru memperingatkan para pelanggannya agar menghentikan transaksi dengan admin Rebone City karena telah diamankan aparat.
“Stop segala transaksi ke beliau (ReboneCity, red) karena terindikasi di tangan oknum (kepolisian, red),” tulis akun tersebut.
Forum Bersama (Forbes) Anti Narkoba mengaku telah lama memantau pergerakan akun @Goodstuff yang diduga mengedarkan sabu dengan sistem serupa.
Ketua III Forbes Bone, Rahmat, secara terbuka menantang keseriusan aparat penegak hukum.
“Kami tantang tim siber kepolisian, apakah mampu mengungkap para terduga pelaku ini. Kami menilai penegak hukum seolah terus dipermainkan. Atau jangan-jangan mereka memang dibekingi?” ujar Rahmat.
Kini, publik menunggu langkah tegas aparat. Apakah pengungkapan ini akan berhenti pada satu akun, atau menjadi pintu masuk membongkar jaringan narkotika digital berskala lebih besar?
(Redaksi)






