Majene  

Padi Gogo, Saksi Bisu Perjuangan Leluhur di Pegunungan Majene

Foto: Seorang ibu yang sedang memisahkan benih padi gogo dari rantingnya. (Dok. Kamil)

Jurnalis: M Kamil

ENEWS, MAJENE ••》Padi gogo menjadi saksi bisu perjuangan para pendahulu masyarakat pegunungan di Kabupaten Majene. Tradisi membudidayakan padi gogo masih terus dilestarikan hingga kini, khususnya di wilayah terpencil dan pegunungan.



Minggu pagi (8/2/2026), Enews menjumpai seorang warga yang sedang memisahkan benih padi gogo dari rantingnya di Dusun Rattepadang, Desa Awo, Kecamatan Tammerodo.

Wilayah tersebut merupakan kawasan pegunungan dengan ketinggian sekitar 20 kilometer di atas permukaan laut (MDPL).

Mayoritas warga di wilayah pelosok dan pegunungan masih mempertahankan budidaya padi gogo, yang juga dikenal sebagai beras merah.

Kegiatan bertani ini telah diwariskan secara turun-temurun sejak masa kakek buyut mereka hingga sekarang.

Menurut keterangan warga setempat, budidaya padi gogo dan padi ketan telah dilakukan sejak masa penjajahan Belanda sekitar tahun 1900-an.

Salah seorang warga, Basirung, mengungkapkan bahwa nenek moyang mereka dahulu menetap di sebuah wilayah yang dikenal dengan sebutan Bulo-bulo.

“Dulu nenek moyang kami tinggal di satu perkampungan yang disebut Bulo-bulo. Mereka rutin membersihkan lahan luas untuk ditanami padi gogo dan padi ketan,” ujar Basirung, Minggu (8/2/2026).

Ia menjelaskan, karena lahan pertanian sering digunakan, masyarakat pada masa itu kerap berpindah tempat untuk mencari lahan baru.

Menurutnya, perbedaan hasil panen antara lahan baru dan lahan yang telah lama digunakan sangat signifikan.

“Lahan untuk padi gogo tidak bisa sembarang tanah. Dulu, tanah yang sudah sering digunakan akan menurun kesuburannya. Berbeda dengan sekarang, sudah ada pupuk yang bisa mengembalikan unsur hara tanah,” jelasnya.

Warga lainnya, Munding, menambahkan bahwa pada masa penjajahan kolonial Belanda, aktivitas bertani padi gogo kerap terhambat.

Ia menyebutkan, kebun-kebun warga sering dibakar dan masyarakat dipaksa bekerja oleh penjajah.

“Karena tekanan penjajah Belanda, para leluhur kami terpaksa masuk ke hutan-hutan untuk bertani demi menghindari razia dan penindasan,” ungkap Munding.

Munding juga menjelaskan bahwa dari perkampungan Bulo-bulo terjadi perpindahan penduduk ke sejumlah wilayah lain.

Faktor pemenuhan kebutuhan hidup menjadi alasan utama perpindahan tersebut.

“Sebagian menetap di Dusun Panggalo, Kecamatan Ulumanda, sebagian ke Dusun Rattepadang, Kecamatan Tammerodo, dan ada pula ke Dusun Udunglemo serta wilayah lainnya untuk mencari lahan yang strategis menanam padi gogo dan padi ketan,” tutupnya.





Tinggalkan Balasan