Orientasi Pendidikan di Indonesia: Ciptakan Buruh, Bukan Manusia Kreatif

Foto: Demisioner Ketua Dewan Eksekutif Mahasiswa (Dema) Fakultas Syariah dan Hukum Universitas Islam Negeri (UIN) Alauddin Makassar.

ENEWS PENDIDIKAN •• Salah seorang aktivis di Kota Makassar, Muhammad Nurhaikal menyoroti sistem pendidikan di Indonesia dengan pola pengajaran yang lebih berorientasi mencetak tenaga kerja dibanding membentuk individu yang siap meraih kesuksesan.

Menurutnya, dengan adanya efesiensi anggaran yang memperjelas bahwa dunia pendidikan pada saat ini sedang tidak baik-baik saja.



“Kurikulum pendidikan saat ini terlalu fokus pada hafalan dan kepatuhan terhadap aturan tanpa memberi ruang bagi kreatifitas dan berpikir kritis,” kata Demisioner Ketua Dewan Eksekutif Mahasiswa (Dema) Fakultas Syariah dan Hukum Universitas Islam Negeri (UIN) Alauddin Makassar itu, Sabtu (1/3/2025).

Akibatnya, lulusan sekolah maupun perguruan tinggi cenderung lebih siap untuk menjadi pekerja yang tunduk pada sistem daripada menjadi inovator atau pemimpin di bidangnya.

Haikal memaparkan, menurut laporan Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2024, angka pengangguran terbuka di kalangan lulusan perguruan tinggi mencapai 5,8 persen, lebih tinggi dibandingkan lulusan pendidikan menengah kejuruan yang berada di angka 4,2 persen.

“Hal ini menunjukkan bahwa meskipun memiliki gelar akademik, banyak lulusan tidak memiliki keterampilan yang sesuai dengan kebutuhan dunia kerja modern ” ujarnya.

Selain itu kata Haikal, survei dari World Economic Forum (WEF) tahun 2023 mengungkapkan bahwa 65 persen pekerjaan di masa depan akan membutuhkan keterampilan berpikir kritis, pemecahan masalah, serta kreativitas.

“Kemampuan yang saat ini belum menjadi fokus utama dalam kurikulum pendidikan nasional,” sebutnya.

Sebaliknya, mayoritas sistem pendidikan masih berbasis pada hafalan dan kepatuhan terhadap struktur akademik yang kaku, yang lebih cocok untuk menyiapkan tenaga kerja konvensional daripada wirausahawan atau inovator.

“Kampus UIN Alauddin Makassar sudah terdampak adanya efesiensi anggaran tersebut, dimana mahasiswa harus tunduk dan patuh kepada para pengajar atau pun system yang dibuat oleh para birokrasi yang biasanya menghalangi kreativitas mahasiswa,” jelasnya.

Parahnya, anggaran lembaga-lembaga kemahasiswaan yang ada di kampus menurun hingga kreativitas mahasiswa itu pun ikut menurun.

Dijelaskannya, seorang pakar pendidikan dari Universitas Indonesia Dr. Rina Kusuma menjelaskan, “Saat kita masih di bangku sekolah, kita diajarkan untuk mengikuti perintah, mengerjakan soal dengan cara yang sudah ditentukan, dan menghindari kesalahan sebisa mungkin. Padahal, dunia kerja yang sesungguhnya membutuhkan individu yang berani mengambil risiko dan berpikir di luar kebiasaan.”

Dr Rina juga mengatakan, “Jika kita ingin menciptakan generasi yang sukses, kita harus mengubah cara kita mendidik mereka. Pendidikan harus menjadi wadah bagi anak-anak muda untuk menemukan passion mereka, mengembangkan ide-ide baru, dan belajar menghadapi tantangan.”

Dari penjelasan Dr. Rina tersebut, masyarakat harus sadar bahwa saat ini mereka semua dipermainkan oleh sistem pendidikan.

“Sistem pendidikan sekarang ada pada era revolusi industri buat ngelatih kita menjadi seorang pekerja pabrik bukan lagi membuat kita menjadi sukses ataupun menjadi bos,” katanya.

“Kita sekolah itu tidak salah, tapi yang salah adalah ketika mengandalkan pendidikan yang mengikuti sistem tersebut. coba kita pikir sistem pendidikan sekarang yang ada pada era revolusi industri ini dari sudut pandang berbeda sehingga kita bisa meihat sistem pendidikan ini sangat mengacaukan,” sambungnya.

Dengan semakin banyaknya diskusi mengenai reformasi pendidikan, diharapkan pemerintah dan pemangku kepentingan terkait dapat mengambil langkah-langkah nyata untuk mengubah sistem pendidikan agar tidak lagi hanya mencetak buruh.

“Tetapi juga individu yang mampu menciptakan peluang dan meraih kesuksesan,” pungkasnya. (Red)





Editor: Abdul Muhaimin

Tinggalkan Balasan