Kehancuran Kepmi Bone di Bawah Kepemimpinan Andi Alvian

Foto: Ketua DPP Kepmi Bone, Andi Alvian (kemeja putih garis biru) bersama pengurusnya. (File ENews)

ENews, Bone •• Andi Alvian yang merupakam Ketua Dewan Pengurus Pusat Kesatuan Pelajar Mahasiswa Indonesia – Bone (DPP Kepmi Bone) dinilai gagal menjalankan tugasnya. Diketahui, Andi Alvian terpilih sebagai Ketua DPP Kepmi Bone periode 2021-2023 pada Kongres yang digelar di Tanjung Pallette, Sabtu (11/12/2021) lalu.

Sejumlah Dewan Pengurus Cabang (DPC) dan Dewan Pengurus Komisariat (DPK) mengeluhkan Andi Alvian yang dinilai tidak amanah.



Terlebih lagi, hingga saat ini, pihak DPP Kepmi Bone belum menggelar Kongres padahal, periode kepengurusan Andi Alvian telah lama beraakhir.

Salah seorang Dewan Pertimbangan Kepmi Bone Komisariat Taro Ada Taro Gau, Sandi Aslim menyebut bahwa kepemimpinan Andi Alvian adalah periode terparah sejak dirinya bergabung di Kepmi Bone.

“Kepemimpinan Kepmi Bone dinilai gagal dalam banyak aspek, sehingga anggota merasa tidak percaya dan banyak yang ingin meninggalkan organisasi. Andi Alvian harus memoertanggung jawabkan oerbuatannya,” tegas anggota Hipmi ini, Ahad 14 September 2025.

Berikut sejumlah keluhan yang disampaikan beberapa anggota Kepmi Bone yang dihimpun ENews Indonesia;

1. Kegagalan Mengelola Dana Hibah

Dana hibah yang diterima tidak tersalurkan dan tidak ada transparansi dalam penggunaannya

2. Komunikasi yang Buruk

Ketua DPP menghilang tanpa kabar selama beberapa bulan, sehingga proses kongres tertunda dan anggota merasa tidak dihargai.

3. Krisis Kepercayaan

Anggota merasa tidak percaya lagi pada kepemimpinan Kepmi Bone karena dinilai tidak amanah dan tidak efektif.

4. Keinginan untuk Independen

Banyak anggota yang ingin meninggalkan Kepmi Bone dan menjadi independen karena merasa tidak lagi diwakili oleh organisasi ini.

5. Kerusakan Reputasi

Reputasi Kepmi Bone rusak akibat kepemimpinan yang tak amanah dan tidak efektif.

6. Keterlambatan Kongres

Kongres yang tertunda membuat anggota merasa tidak ada kemajuan dan tidak ada perubahan dalam organisasi.

7. Kurangnya Transparansi

Tidak ada transparansi dalam pengelolaan dana dan program, sehingga anggota merasa tidak percaya pada kepemimpinan.

8. Kebutuhan akan Perubahan

Anggota merasa bahwa perubahan kepemimpinan dan sistem pengelolaan organisasi sangat dibutuhkan untuk memulihkan kepercayaan dan meningkatkan efektivitas.

9. Ketiadaan Partisipasi dalam Aks

Ketika masyarakat membutuhkan dukungan untuk mendemo pemerintah, bendera Kepmi Bone tidak ada sama sekali, menunjukkan ketidakaktifan dan ketidakpedulian organisasi terhadap isu-isu penting.

10. Kurangnya Kontribusi pada Masyarakat

Kepmi Bone dinilai tidak memberikan kontribusi yang signifikan pada masyarakat, sehingga anggota merasa tidak ada manfaat dari keanggotaan.





Tinggalkan Balasan