Oleh: Abdul Latif ( Mahasiswa Jurusan Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir, Institut Agama Islam Muhammadiyah Sinjai )
Guru sebenarnya adalah sosok yang menjadi panutan bagi semua siswa disekolah. Di tangannya lah dititipkan kaum muda untuk dikembangkan menjadi ihsan yang menjunjung tinggi moralitas dan martabat kemanusiaan. Jangan tanya berapa gaji yang diperoleh menjadi seorang guru karena gaji yang mereka peroleh tidak sebanding dengan apa yang mereka perbuat untuk masa depan seorang siswa. Jasa seorang guru dan dedikasinya lah yang dapat membuat cerdasnya suatu bangsa dan akan selalu terukir sekalipun napas sudah berpisah dengan raga.
Namun pandangan terhadap figur seorang guru mulai luntur. Hal ini disebabkan banyaknya kasus kekerasan yang menimpa seorang guru mulai dari kasus kekerasan sampai yang parahnya lagi kasus pelecehan seksual terhadap murid nya itu sendiri. Guru kini sering di bayangi berbagai ancaman mulai dari yang ringan sampai menghadapi yang namanya jeruji besi. Kondisi sekarang berbeda dengan zaman dahulu, dimasa lalu tindakan seorang guru dalam hal menegur muridnya merupakan bentuk perhatian seorang guru. Tak heran guru zaman dahulu sangat berwibawa di mata siswa dan masyarakat. Jika guru sudah menatap siswa dengan tatapan diam maka siswa akan dengan segera menyadari kesalahannya, tidak ada yang melapor atau menuduh guru telah melakukan pelanggaran HAM karena sang guru memberikan sanksi kepada siswanya sesuai dengan apa yang dilakukan oleh siswa itu sendiri.
Dulu guru adalah sosok yang teladan dimata siswa menjadi sebuah panutan untuk masyarakat dan sosok yang bisa kita hormati sebagai pengganti orang tua kita,kini justru terbalik. Guru di zaman sekarang dianggap sebagai ”mesin” akademik saja. Bukan sebagai sosok yang harus di teladani, seiring berjalannya waktu dan zaman yang mulai modern ini banyak kasus yang melibatkan beberapa guru mulai dari kekerasan dalam mengajar maupun pelecehan. Inilah yang hampir membuat kehormatan seorang guru hilang sedikit demi sedikit.
Tetapi apa boleh buat, zaman telah berubah, zaman sudah mulai modern seiring berjalannya waktu sosok seorang guru juga sudah mulai hampir tergantikan disebabkan zaman sudah mulai modern moral siswa dalam melihat sosok seorang guru pun mulai luntur kenapa begitu? contohnya dunia sempat di gemparkan dengan kasus kekerasan siswa terhadap guru mereka sendiri. Dari berbagai jenis latar belakang dan kronologi kasus menggemparkan ada yang salah dalam etika dan moralitas siswa. Kenyataannya ini semakin mempertegas pentingnya pendidikan karakter dan etika untuk seorang siswa. Pendidikan karakter tidak hanya berfokus pada penyampaian materi akademik saja, tetapi juga menggambarkan etika dan sopan santun merupakan suatu metode dalam mengajarkan kepada siswa yang harus di terapkan oleh guru itu sendiri.
Mengembalikan sosok seorang guru yang dihormati dan menjadi tauladan bagi semua kalangan adalah langkah yang nyata yang harus dilakukan semua komponen masyarakat. Tak hanya tanggung jawab terhadap lingkungan sekolah. Dimulai dari keluarga yang menanamkan ilmu dan nilai agama dalam pendidikan seorang siswa untuk saling menghormati satu sama lain terkhusus menghormati yang tua, dan media pun harus berhati-hati dalam menampilkan atau memberi informasi kepada semua kalangan terkhusus siswa yang masih dibawah umur karena baik secara tidak langsung ataupun langsung itu dapat membentuk karakter siswa itu sendiri yang sedang proses mencari jati dirinya itu sendiri. Jangan sampai dunia ini terkhusus di negara kita yang tercinta ini ternodai kembali terkhusus di lingkup Pendidikan menjadi tercoreng ataupun tidak pantas karena kurangnya pendidikan atau didikan terhadap siswa dalam mencerdaskan dirinya, dan juga jangan sampai dunia Pendidikan tercoreng dengan ungkapan ”Guru Sibuk Mengajar, Murid Sibuk Menghajar”.






