ENEWS, BONE •• Suasana tenang di Sekolah Dasar Negeri (SDN) 28 Usa, Kecamatan Palakka, Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan, mendadak berubah menjadi tegang pada Sabtu (1/11/2025).
Di tengah keceriaan anak-anak bermain, seorang siswi kelas V, sebut saja Z (10), menjadi korban perlakuan tidak pantas dari seorang oknum guru taman kanak-kanak (TK) di lingkungan yang sama.
Guru tersebut berinisial HRT (45), seorang Pegawai Negeri Sipil (PNS) yang mengajar di TK Melati USA. Menurut keterangan keluarga korban, HRT memukul wajah Z menggunakan sebuah buku hingga bibir bocah itu berdarah.
Tak hanya kekerasan fisik, Z juga harus menelan pil pahit berupa kata-kata kasar yang dilontarkan oleh oknum guru itu, ucapan yang sama sekali tidak pantas keluar dari seorang pendidik.
“Ibu HRT itu memukul anak saya pakai buku sampai bibirnya berdarah. Kalau pun anak saya salah, tidak seharusnya dipukul, apalagi bukan gurunya,” ujar Ayu, ibu korban, usai melapor ke Polres Bone, Selasa (4/11/2025).
Ayu mengaku masih terpukul dengan kejadian itu. Lebih dari sekadar luka di bibir, hatinya terluka mendalam ketika mendengar putrinya disebut dengan kata-kata yang kejam.
“Dia bilang anak saya anak haram. Saya sangat tidak terima! Dari mana dia tahu bisa berkata seperti itu?” ungkapnya dengan suara bergetar.
Menurut Ayu, tindakan HRT bukan hanya mencoreng nama baik profesi guru, tapi juga melukai nilai kemanusiaan seorang pendidik yang seharusnya menjadi teladan bagi anak-anak.
Kemarahan Ayu semakin memuncak setelah mendengar penuturan dari Kepala Sekolah TK tempat HRT mengajar.
“Kepala sekolahnya bilang sendiri, guru itu memang sering berbuat masalah dan bahkan sering melawan atasan,” tambah Ayu.
Kasus ini kini telah dilaporkan ke pihak kepolisian. Keluarga berharap agar aparat penegak hukum menindak tegas pelaku sesuai peraturan yang berlaku.
“Saya hanya ingin keadilan untuk anak saya. Tolong jangan ada lagi anak-anak yang mengalami hal seperti ini,” tutur Ayu lirih.
Sementara itu, hingga berita ini diterbitkan, oknum guru HRT belum memberikan tanggapan meski telah diupayakan dikonfirmasi oleh ENews Indonesia.
Kejadian ini menjadi tamparan keras bagi dunia pendidikan di daerah. Di tengah upaya memperkuat karakter dan perlindungan anak di sekolah, masih ada perilaku oknum pendidik yang mencederai makna sejati profesi guru sebagai sosok yang mestinya mengajar dengan kasih, bukan dengan amarah.
(Redaksi ENews Indonesia)






