“Dia menindih badan saya kemudian menutup wajah saya pakai bantal sehingga saya susah bernapas. Saya pun berontak dan bahkan pura-pura pingsang. Pelaku akhirnya membuka bantal tersebut dan saya langsung berteriak, dia tutup lagi kembali pakai bantal sembari berusaha membuka pakaian saya lalu saya pura-pura pingsan lagi,” kisah SR.
ENEWS BONE •• Kasus dugaan penipuan dan penganiayaan yang dilakukan oleh Sekretaris Lurah (Seklur) Manurunge, Kecamatan Tanete Riattang, Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan (Sulsel) berinisial IJ (41) terus bergulir di kepolisian (Polres Bone).
Selain itu, SR (41) selaku korban mengungkapkan bahwa dirinya dan pelaku juga telah dimintai keterangan oleh pihak Inspektorat Pemda Bone.
“Iye dia (IJ) dan juga saya (waktu tak bersamaan) telah dimintai keterangan pihak Inspektorat (Pemda) Bone,” kata SR kepada ENews Indonesia, Kamis (27/3/2025).
Saat berbincang bersama jurnalis ENews Indonesia, SR mencurahkan segala isi hatinya terkait kekecewaannya terhadap IJ.
“Saya berkenalan dengannya (IJ) sekitar bulan 9 tahun 2023. Ia meminta nomor hp saya melalui teman-teman saya. Kemudian kami pun sering ketemu setiap jogging sore. Baik di GOR maupun di Lapangan Merdeka,” kata SR memulai kisahnya.
Lebih lanjut SR bercerita, beberap bulan kemudian dirinya hendak ke tanah suci Mekkah bersama ibunya.
“Spontan dia minta ikut dan saya jawab tidak bisa karena kita bukan muhrim. Lalu dia Andi Ile berkata, nanti di sana kita menikah,” katanya.
SR pun merasa yakin dengan perkataan pelaku. SR pun menyetejui keikutsertaan IJ ke Mekkah.
“Kemudian minta dibayarkan (ke Mekkah) oleh saya. Sampai di Mekkah sikap aslinya muncul. Ketika saya menagih janjinya (dinikahi), ia sering marah-marah tidak jelas bahkan menuduh saya yang tidak masuk akal,” kata SR.
Melihat tingkah IJ seperti kesetanan, korban memilih diam. Saat akan kembali ke Indonesia, SR kembali dijanji untuk dinikahi jika sudah berada di Kabupaten Bone.
“Sampai lagi di Bone, tidak ada juga (ingkar janji). Hingga pada 11 Oktober 2024 seorang wanita menghubungi saya melalui voice note whatsapp mengaku berpacaran sama Ile (pelaku) dan mengaku juga mau dinikahi pelaku,” mata janda itu berkaca-kaca.
Saat mendapat informasi (pacar pelaku lainnya), SR naik pitam lalu mengancam akan mendatangi kantor pelaku dengan membawa wartawan.
“Ternyata, wanita (yang menghubunginya) itu punya suami, makanya A. Ile (pelaku) takut dan panik. Tiba-tiba pelaku datang memaksa saya ke kelurahan untuk mengurus pernikahan,” ucapnya.
Tapi kata SR, ternyata hal itu merupakan upaya pelaku untuk meredam amarah SR. Saat di kantor lurah, pelaku melarang SR untuk masuk dengan alasan bahwa petugas di dalam adalah teman pelaku.
“Alasannya, dia berteman dengan pak lurah, jadi minta KTP dan KK saya saja. Lalu pelaku kemudian mengaku bahwa berkasnya sudah jadi, tapi saya dilarang memfoto berkas yang digenggam pelaku,” kesalnya.
Keesokan harinya, SR mencoba menghubungi pelaku untuk membicarakan terkait urusan pernikahan.
“Tapi pelaku tidak pernah angkat telpon dan balas pesan saya. Saya datang di rumahnya, ternyata dia tidak mau bahas soal pernikahan,” ucapnya.
Pasca kejadian itu, SR dan beserta orang tuanya meras heran dengan tingkah laku pelaku serta merasa dipermainkan dan dipermalukan.
“Sejak saat itu, saya sudah tidak mau berkomunikasi dengan pelaku,” kata honorer guru itu.
Pada tanggal 24 Oktober 2024, pelaku mencoba menghubungi SR mulai pagi hingga malam tapi tidak digubris.
“Saya pun kesal, dan menghubungi orang tuanya kembali,kenapa anaknya selalu mengganggu saya. Jika maksudnya baik, silakan datang ke rumah saya bersama keluargata’,” tegasnya.
Tapi pelaku tak berhenti menghubunginya. Rasa iba SR pun muncul, ia pun mencoba kembali mendatangi pelaku di rumahnya.
“Setiba di sana, saya lihat ibunya, kakaknya dan keluarganya yang lain. Saya langsung ke lantai atas setelah saya bertanya posisi pelaku,” kata SR.
Namun nahas, saat SR tiba di lantai dua, SR langsung diseret oleh pelaku masuk ke kamar dan dipaksa berhubungan badan.
“Dia menindih badan saya kemudian menutup wajah saya pakai bantal sehingga saya susah bernapas. Saya pun berontak dan bahkan pura-pura pingsang. Pelaku akhirnya membuka bantal tersebut dan saya langsung berteriak, dia tutup lagi kembali pakai bantal sembari berusaha membuka pakaian saya lalu saya pura-pura pingsan lagi,” kisahnya.
“Saya berfikir, saya bisa mati kalau begini, karen susah bernapas. Pelaku pun kembali membuka bantal lalu saya berteriak sekencang-kencangnya tapi pelaku memukul mulut saya dan bibir saya mengeluarkan darah,” sambungnya.
Mendengar kegaduhan itu, keluarga pelaku naik kel lantai dua dan menendang pintu kamar.
Pelaku pun panik dan mengambil tissu untuk mmbersihkan darah itu dari bibir SR. Kakak pelaku menangis melihat kejadian itu, ibu pelaku juga panik dan berkata, “Kenapa kau perlakukan orang seperti itu. Bilang memangka menikahmko, siapa perempuan mau dikasi begitu nak, tidak ada prempuan mau dikasi bgitu saja.”
Saat itu, SR pun mengancam pelaku akan melapor ke pihak berwajib terkait insiden itu tapi, pelaku langsung berdiri dan memukul kepala korban sambil berkata, “Jika kau lapor, saya bunuh kamu.”
Keluarga pelaku yang merupakan seorang duda itu mencoba melerai dan memohon kepada SR untuk tidak melaporkan kejadian itu ke pihak berwajib.
“Orang seperti ini tak pantas jadi pengayom masyarakat,” tandas SR.
Sebelumnya diberitakan, oknum pejabat di lingkup Kelurahan Manurunge, Kecamatan Tanete Riattang, Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan (Sulsel) dilaporkan ke polisi dengan kasus dugaan penipuan.
Pria yang berinisial IJ (41) yang menjabat sebaga Sekretaris Lurah (Seklur) Manurunge dilaporkan polisi oleh kekasihnya berinisial SR (41) dengan Laporan Polisi Nomor: LP/80/II/2025/SPKT/RES BONE/6 Februari 2025.
“Selain laporan dugaan tindak pidana penipuan, sebelumnya klien kami juga telah melaporkan tindak pidana penganiayaan di Polsek Tanete Riattang. Kedua laporan tersebut kini sementara berjalan,” kata Kuasa Hukum SR, Muh. Azhar SHi MH kepada ENews Indonesia, 14 Maret 2025 lalu. (Redaksi ENews Indonesia)






