ENEWSINDONESIA.COM, BONE – Seorang anak perempuan berusia 15 tahun yang duduk di bangku kelas tiga Sekolah Menengah Pertama (SMP), warga Desa Ajallasse, Kecamatan Cenrana diduga menjadi korban rudapaksa secara beramai-rami oleh teman sekolahnya.
Dari informasi yang dihimpun, Kejadian terjadi di Desa Cenrana, Kecamatan Cenrana saat ini anak tersebut dikabarkan meninggal dunia diduga akibat pemerkosaan tersebut. Keluarga minta pihak kepolisian serius tangani kasus.
Terbaru, beredar rekaman (voice note Whatsapp) seorang laki-laki yang mengaku sebagai pelaku kasus tersebut.
“Na iya tersangka kerodo, mateni, gentayangang ammengngi hahahahaha (saya tersangka di situ, mati aku, nanti korban gentayangan. Red),” bunyi isi rekaman suara tersebut dalam bahasa bugis sambil tertawa yang diterima redaksi Enewsindonesia.com, pagi tadi, Senin (20/2/2023).
Sebelumnya diberitakan, warga Desa Ajallase Kecamatan Cenrana yang juga keluarga korban, Buce menuturkan keluhan awal korban yang disampaikan sakit kepala.
“Setelah itu, dibawah ke Puskesmas makanya diobati itu. Pas tiga hari di Puskesmas pulang tidak ada perubahan,” ungkapnya kepada watawan, Sabtu (18/2/2023).
Ia mengatakan anak ini takut mengaku dan keluarganya curiga ada kelainan akhirnya diperiksa oleh keluarga.
“Dilihat kelaminnya ada kelainan. Tidak bisa duduk dan BAB, dan dia depresi berat, jadi ini diduga pelakunya bukan hanya satu orang tapi ramai-ramai,” katanya.
Saat dilakukan pemeriksaan oleh keluarga korban. Korban mengatakan pelakunya berjumlah kadang empat orang dan lima orang pelakunya.
“Akhinya pada hari Sabtu lalu saya bawa ke Polres untuk melapor, sampai di sana kita diminta bawa visum ke rumah sakit RS M Yasin, dan orang tuanya di BAP,” tuturnya.
Setelah dilakukan visum ia menjemput orang tua korban, namun saat ditemui polisi mengatakan kasus ini tidak bisa ditanggapi karena masih mengambang hasil BAP nya.
“Karena memang orangtuanya ini korban tidak terlalu pintar bicara sama polisi, karena baru juga menghadapi kasus begini. Hasil visumnya itu anus sama alat vitalnya hancur, jadi ini dicurigai dilakukan ramai-ramai,” katanya.
Kata dia, akhirnya korban di RS M Yasin agar kondisinya membaik dan depresinya tidak terlalu berat lagi sehingga bisa dimintai keterangan. Karena kondisinya saat itu ketika ditanya jawabannya ngawur.
“Namun setelah di rawat selama lima hari korban meninggal, tepatnya Kamis Malam, dan dimakamkan setalah sholat Jumat kemarin,” katanya.
Kata dia, pihak keluarga korban berharap pihak kepolisian bisa bertindak tegas mengungkap kasus ini. Tetapi sampai sekarang belum ada aksi dari kepolisian dan pihak keluarga sudah ada bukti dalam bentuk rekaman suara berasal dari grup whatsapp milik korban.
“Artinya kalau untuk pelaporannya kami sudah melapor, tetapi polisi seperti tidak ada tanggapan sama sekali sampai sekarang. Saya akan temani lagi keluarga korban melapor Senin,” jelasnya.
Kata dia, saat ini pihaknya memegang bukti yang berasal dari grup Whatsapp korban yang berisikan siswa di sekolah tersebut, ada yang kelepasan bilang dia pelakunya.
“Makanya kita minta polisi menindaklanjuti itu berdasarkan bukti-bukti tersebut, apa salahnya diambil keterangannya dulu sempat dari situ bisa dilakukan pengembangan,” tuturnya.
Terpisah, Kapolsek Cenrana AKP Andi Muh.Siregar menyampaikan pihak Polsek tidak menerima laporannya. (Mienk)






