ENEWS, BANTAENG •• Ambruknya bangunan Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Kabupaten Bantaeng, Sulawesi Selatan (Sulsel) pada Sabtu (15/11/2025) sekitar pukul 10.00 Wita memantik gelombang kritik keras dari masyarakat.
Peristiwa yang disebut terjadi setelah angin kencang itu dinilai janggal, mengingat gedung tersebut baru saja selesai direhab menggunakan anggaran besar.
Sekretaris Lembaga Bantuan Hukum Cendrawasih Celebes Indonesia (LBH CCI) Kabupaten Bantaeng, Misbahuddin, menolak keras narasi bahwa kerusakan tersebut murni akibat cuaca ekstrem.
“Gedung baru kok bisa ambruk hanya karena angin? Ini aneh. Kami menduga kuat ada masalah serius dalam kualitas material dan pengerjaan. Musibah bukan alasan untuk menutupi kemungkinan pelanggaran,” tegasnya saat dikonfirmasi ENews Indonesia, Sabtu 15 November 2025.
Proyek Rehab Gedung Kankemenag Kabupaten Bantaeng, dengan nilai Rp 3,7 miliar bersumber dari APBN 2023, semestinya dibangun dengan standar struktural yang mampu menahan kondisi cuaca di wilayah tersebut. Namun kenyataan di lapangan memperlihatkan sebaliknya.
Misbahuddin menuntut pemerintah dan aparat penegak hukum untuk melakukan audit total, termasuk menelusuri transparansi penggunaan anggaran, kesesuaian spesifikasi teknis, hingga proses pengawasan proyek.
“Audit forensik konstruksi wajib dilakukan. Publik berhak mengetahui apa yang sebenarnya terjadi. Kontraktornya harus diperiksa tanpa kompromi. Ini uang negara, bukan proyek percobaan,” ujarnya.
Ia menegaskan LBH CCI akan terus mengawal kasus ini hingga ada kejelasan dan pertanggungjawaban hukum.
“Kami tidak akan diam. Hasil audit harus dibuka ke publik. Ini menyangkut keselamatan masyarakat dan integritas pembangunan daerah,” tambahnya.
Insiden ambruknya gedung Kemenag Bantaeng kini menjadi sorotan tajam publik dan menjadi ujian transparansi bagi pemerintah daerah, pelaksana proyek, dan aparat penegak hukum dalam memastikan pembangunan fasilitas negara tidak dikerjakan secara asal-asalan.
Jurnalis: Ismail L






