Bone  

Atas Instruksi Kades, Sistem Tapin Benih Padi di Desa Samaenre Bengo Capai 70 Persen

Foto: Kades Samaenre (kanan), Penyuluh Pertanian Bengo (tengah), dan Ketua BPD Samaenre (kiri) saat bergotong royong dalam pengaplikasian tanam benih padi dengan sistem tanam pindah. (Dok. ENews)

ENEWS, BONE •• Guna mewujudkan Indonesia swasembada pangan dengan produksi yang optimal, Kepala Desa Samaenre Kecamatan Bengo Kabupaten Bone, Samsuddin menginstruksikan petani di wilayahnya untuk melakukan penanaman benih padi menggunakan sistem tanam pindah (tapin) yang sebelumnya menggunakan sistem tanam benih langsung (tabela) atau sistem hambur.

Samsuddin turun langsung bersama Penyuluh Pertanian Bengo, Andi Nilawati Harun ke petani untuk memantau pengaplikasian tanam benih padi sistem tapin pada Selasa (10/6/2025).

banner 728x250

“Tapin di wilayah kami sudah mencapai 70 persen,” kata Samsuddin kepada ENews Indonesia.

Manfaat lain dari sistem tapin ini juga mempererat tali silaturahmi antar petani dengan bergotong royong menanam benih padi.

“Saya tidak akan tanda tangani proposalnya kelompok tani apabila anjuran pemerintah seperti tapin ini tidak dilaksanakan. Bukan saya yang menikmati hasilnya tapi petani itu sendiri,” tegasnya.

Sementara, para petani juga mengaku sangat bersyukur dengan instruksi Kades Samaenre dengan melakukan sistem tapin. Apa lagi dengan adanya beberapa bantuan mesin bor kepada para petani.

“Semoga ke depan pemerintah daerah dalam hal ini Dinas Pertanian bisa memberikan tambahan mesin bor ke kelompok tani di sini,” kata Sasi, salah seorang petani setempat.

Sasi juga berharap, semoga tahun depan para petani di Desa Samaenre sudah bisa melakukan tapin benih padi hingga 90 persen.

“Karena selain padi mudah pemeliharaannya, hasil panen juga melimpah,” ujarnya.

Pada kesempatan yang sama, Penyuluh Pertanian Bengo Andi Nilawati Harun menjelaskan, teknik pindah tanam dilakukan dengan memindahkan bibit padi dari persemaian ke lahan tanam utama guna memberikan ruang tumbuh yang lebih baik, mengurangi persaingan antar tanaman, serta memaksimalkan penyerapan nutrisi dan udara.

“Agar tanaman dapat tumbuh optimal dan menghasilkan produksi yang tinggi. Keberhasilan proses pemindahan tanam sangat ditentukan oleh ketepatan waktu, metode tanam, dan perlakuan terhadap bibit,” terang Andi Nila.

Tambahan informasi:

Faktor Penghambat Keberhasilan Tapin

Dalam pelaksanaan perpindahan tanam, terdapat beberapa faktor yang dapat menghambat keberhasilan, antara lain:

  1. Usia Bibit yang Tidak Sesuai: Bibit yang terlalu muda atau terlalu tua tidak dapat beradaptasi dengan baik setelah dipindahkan ke lahan utama.

  2. Cuaca Ekstrem: Penerapan perpindahan tanam di tengah suhu tinggi atau hujan deras dapat menyebabkan stres pada bibit dan bahkan kematian.

  3. Teknik Pencabutan yang Kurang Hati-hati: Pengambilan bibit dengan cara yang tidak benar dapat merusak akar sehingga menghambat pertumbuhan.

  4. Kondisi Lahan yang Kurang Memadai: Lahan yang belum dipersiapkan dengan baik, misalnya belum dilakukan pengolahan awal atau pemupukan dasar, dapat menurunkan kualitas pertumbuhan padi.

  5. Pengaturan Jarak Tanam yang Tidak Tepat: Jarak tanam yang sempit akan menyebabkan persaingan nutrisi dan cahaya, sedangkan jarak yang terlalu jauh dapat mengurangi potensi hasil panen.

Manfaat Penerapan Teknik Pindah Tanam yang Tepat

Dengan menerapkan teknik pindah tanam padi sesuai anjuran teknis, diharapkan petani akan mendapatkan sejumlah manfaat, antara lain:

  1. Peningkatan Adaptasi dan Pertumbuhan: Bibit yang dipindahkan dengan teknik yang tepat mampu beradaptasi dengan lebih cepat di lahan tanam, sehingga meningkatkan pertumbuhan akar dan anakan.

  2. Efisiensi Penggunaan Nutrisi dan Udara: Jarak tanam yang optimal dan sistem jajar legowo memungkinkan penyerapan nutrisi dan udara menjadi lebih merata, yang berkontribusi pada peningkatan hasil panen.

  3. Pengurangan Persaingan dan Gulma: Penataan jarak yang proporsional mengurangi persaingan antar tanaman dan memudahkan pengendalian serta hama gulma.

  4. Hasil Panen yang Lebih Tinggi: Dengan pertumbuhan yang seragam dan optimal, produktivitas lahan meningkat sehingga hasil panen pun dapat mencapai target produksi yang lebih baik.

  5. Pengelolaan Tanaman yang Lebih Mudah: Teknik yang terstandarisasi membuat proses perawatan, pemupukan, dan penyiraman menjadi lebih efisien dan terstruktur.

(Mienk/Redaksi)





Tinggalkan Balasan