ENEWSINDONESIA.COM, BONE – Kepala Desa Paccing, Kecamatan Awangpone, Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan, Indriati angkat bicara terkait peristiwa pembunuhan yang terjadi di desanya.
Diketahui sebelumnya, tragedi pembunuhan yang diduga dilakukan oleh suami ketiga terhadap suami kedua di Dusun 5 Bekku, Desa Paccing gegerkan warga Bone. Kejadian tersebut terjadi pada hari Senin (21/8/2023) dini hari sekira pukul 04.00 Wita.
“Setahu saya Suri (sapaan akrab Suriani. Red) tidak menetap di kampung ini, dia merantau ke Negara Malaysia. Saya tidak tahu kalau ternyata dia ada di sini,” kata Indriati memulai pembicaraan saat ditemui Enewsindonesia.com di kediamannya, Selasa (22/8/2023).
Terkait poliandri tersebut, Kades Indriati mengaku tak tahu. Dia menyesalkan kepala dusun (Kadus) di wilayah Dusun 5 Bekku tak menginformasikan hal itu dari awal.
“Pasca kejadian itu, saya panggil Kadus saya dan saya tegur, ‘kamu masih mau jadi kadus kah’, itu kata saya waktu saya panggil. Kadus beralasan telpon genggamnya rusak,” papar Indriati dengan nada emosi.
“Seandainya saya tahu dari awal, saya akan panggil Suryani dan saya akan dudukkan bersama tokoh adat dan agama terkait poliandri itu. Karena hal itu dilarang baik dalam adat maupun agama serta berpotensi menimbulkan konflik,” sambungnya.
Indriati juga mengaku tak tahu keabsahan suami kedua Suriani.
“Saya baru menjabat desa, dan anak Suri dari suaminya yang menjadi korban ini ada dua. Saya tak tahu korban ini menikah secara sah atau siri,” ungkap Indriati.
Siapa Suriani?
Kades Paccing Indriati mengungkapkan Suriani merupakan warga kurang mampu di desanya dan kesehariannya bertani.
“Dia sering ke Malaysia merantau. Ibunya penerima PKH dan sedang sakit-sakitan sedangkan bapaknya saya tidak tahu kemana. Kalau Suri di kampung, ituji biasa kalau tidak bertani, di rumahnya saja. Suri ini berambut pirang dan merokok,” sebut Indriati.
Terkait suami ketiga Suriani, Kades mengaku tak tahu kalau dia telah menikah yang ketiga kalinya.
“Suriani ke Malaysia bersama suami keduanya (korban) namun saya dengar kabar, suami keduanya ini pulang karena sering sakit-sakitan. Ternyata Suriani menikah lagi di sana, mungkin menikah di bawah tangan itu. Itupun saya tahu pas kejadian ini,” ujarnya.
Suami ketiga atau terduga pelaku, kata Indriati bukan merupakan warga Desa Paccing.
“Suami ketiganya ini ber-KTP Nunukan. Kalau suami keduanya memang orang Bulukumba tapi ber-KTP di sini (Desa Paccing),” katanya.
Kejadian pembunuhan
Kades Indriati menyebut dari informasi warganya, korban Abrar selaku suami kedua Suriani datang ke Dusun Bekku untuk menjemput anaknya.
“Jadi hubungan korban dengan istrinya renggang, jadi dia datang ingin menjemput anaknya untuk dibawa ke Bulukumba,” kata Kades.
Kades mengatakan, setiap suami keduanya ini datang ke Desa Paccing, dia bermalam di sebuah rumah milik keluarga istrinya yang bernama Hj Rosi.
“Hj Rosi sudah bangun rumah batu, jadi itu rumah panggungnya kosong. Kalau Abrar datang, dia bermalam di situ. Dari informasi yang saya terima dari warga saya, malam itu (sebelum peristiwa pembunuhan. Red) Abrar tidur di rumah itu bersama beberapa orang temannya (warga setempat). Katanya habis minum (miras. Red),” papar Kades.
Pasca kejadian ini, Kades Indriati berharap masalah ini bisa selesai dan pelaku mempertanggung jawabkan perbuatannya.
“Saya juga akan panggil Suriani terkait kasus ini. Saya juga akan kasi tahu, kalau masih mau tinggal di desa ini, tolong rubah sifat,” tegasnya.
Sebelumnya diwartakan, Abrar Sulfiandi (35) yang merupakan suami kedua Suriani (22) setelah bercerai dengan suami pertamanya harus meregang nyawa setelah ditemukan dalam kondisi penuh luka bacok di sekujur tubuhnya pada pukul 04.00 Wita dini hari, Senin (21/8/2023) kemarin.
Aksi pembunuhan tersebut diduga dilakukan oleh suami ketiga Suriani yakni, Sainuddin (35).
(Mimienk Lee)






