ENEWS, MAJENE ••》Warga Dusun Rattepadang, Kecamatan Tammero’do Sendana, Kabupaten Majene, masih mempertahankan cara tradisional dalam memisahkan kulit padi untuk menghasilkan beras yang alami.
Proses tersebut dilakukan menggunakan lesung dan alu, alat dari kayu yang telah digunakan secara turun-temurun.
Pada Senin (23/3/2026) sekitar pukul 21.16 WITA, Enewsindonesia menjumpai sejumlah warga yang tengah melakukan aktivitas tersebut sebagai bagian dari rutinitas harian mereka.
Padi yang diolah merupakan hasil dari ladang pegunungan dengan medan terjal, berbeda dengan persawahan pada umumnya yang cenderung datar.
Sebelum proses penumbukan (rujak), padi terlebih dahulu dikeringkan agar menghasilkan beras yang berkualitas.
Salah satu warga, Jamil, mengungkapkan bahwa metode tradisional ini tetap dipertahankan meski teknologi modern telah tersedia.
“Kami di daerah pegunungan ini lebih memilih menggunakan lesung dan alu untuk memisahkan kulit padi dengan beras, dibandingkan menggunakan mesin, walaupun mesin lebih cepat dan praktis,” ujarnya.
Menurutnya, hasil penumbukan secara tradisional memiliki kualitas yang berbeda.
“Kalau ditumbuk manual, berasnya lebih alami dan memiliki ciri khas padi gunung yang kental. Sedangkan jika menggunakan mesin, kemurniannya tidak sama dan terlihat seperti beras biasa,” tambah Jamil.
Untuk menjaga keaslian dan kualitas beras gunung, warga setempat tetap konsisten menggunakan metode tradisional tersebut dalam kehidupan sehari-hari. (M. Kamil)






