Hal ini menciptakan dilema di mana skalabilitas yang tinggi seharusnya tidak boleh mengorbankan desentralisasi. Jika persoalan ini terpecahkan penggunaan blockchain akan semakin masif diadopsi oleh banyak negara dan sektor lainnya.
Salah satu proyek blockchain yang dianggap mampu untuk memecahkan dan menjadi solusi atas trilemma tersebut adalah Massa Network. Massa pada awalnya merupakan salah satu proyek penelitian yang dipelopori oleh sekelompok pemuda yang hebat dan cerdas dengan latarbelakang ilmu pengetahuan yang berbeda akan tetapi memiliki kecintaan yang sama terhadap matematika.
Mereka adalah Sebastien Forestier seorang doktor dalam teknologi kecerdasan buatan (AI) sebagai CEO Massalabs, Damir Vodenicarevic seorang doktor bidang fisika fundamental sebagai CTO Massalabs, dan yang terakhir Adrien Laversanne-Finot dengan latar belakang pendidikan sebagai doktor bidang informasi kuantum sebagai CSO Massalabs.
Berdasarkankan informasi dari Adrien CSO Massalabs yang dihimpun melalui AMA (Ask Me Anything) bersama dengan komunitas massa Indonesia bahwa proyek penelitian tersebut diawali pada tahun 2017.
Pada saat itu Sebastian melihat problem di jaringan Bitcoin dan memiliki ide untuk akselerasi skalabilitas blockchain dengan memparalelkan pembuatan blok karena banyak proyek yang menawarkan skalabilitas tapi mengorbankan desentralisasi. Ide tersebut disampaikan ke Damir dan Adrien, mereka berdua tertarik dengan ide tersebut dan pada akhir sepakat bekerja sebagai tim.
Yang unik dari Massalabs adalah proses pendiriannya yakni mereka berusaha untuk membuktikan ide tersebut tanpa harus mendatangi investor untuk mengemis bantuan dengan alibi ‘ide cemerlang’ seperti kebanyakan proyek yang ada saat ini.






