Bone  

Pertama di Indonesia, Pemuda di Bone Ciptakan Wisata Museum Virtual Reality Metamesta

Foto: Drs. Laode Muhammad Aksa, M. Hum mencoba berwisata virtual melalui alat yang disediakan saat launching Wanua Meseum. (Enews)

ENEWSINDONESIA.COM, BONE – Dikutip dari Wikipedia, Metamesta merupakan bagian internet dari realitas maya bersama yang dibuat semirip mungkin dengan dunia nyata dalam dunia internet tahap kedua. Teknologi inilah yang dikembangkan sejumlah pemuda di Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan dengan membuat wisata virtual dengan nama WANUA MUSEUM.

Wanua Museum ini merupakan Museum Virtual Reality Interaktif pertama di Indonesia dan merupakan buah tangan dari RUMAH KREASI BUDAYA BANGSA SAORAJA BONE.



Rumah Kreasi Budaya Bangsa merupakam peraih Hibah Dana Indonesia kategori Karya Kreatif Inovatif dari Direktorat Jenderal Kebudayaan Kemendikbud Ristek yang bekerja sama dengan LPDP (Lembaga Pengelola Dana Pendidikan) Kementerian Keuangan.

Hibah ini melalui tahap seleksi yang cukup panjang, hingga RKBB Saoraja Bone dinyatakan lolos seleksi.

Wanua Museum dirancang dengan Museum Virtual Reality Interaktif Sandang, Pangan, dan Papan Suku Bugis.

Wanua Museum adalah buah pikiran dari Dr. Ichsan Hatib yang menggas Wanu Museum ini.

Wanua Museum resmi dilaunching hari ini, di Ball Room Sentosa, Hotel Novena, Kota Watampone, Kabupaten Bone sebagai pelopor museum virtual reality interaktif pertama di Indonesia, Sabtu (29/7/2023).

Wanua Meseum dilaunching oleh Dirjen Kementerian kebudayaan Kepala Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah XIX Drs. Laode Muhammad Aksa, M. Hum.

Kata Ichsan, Wanua Museum diciptakan berawal dari kurangnya minat dan motivasi pemuda untuk mengunjungi museum dan minimnya pemahaman tentang kebudayaan. Hal tersebut menjadi perhatian khusus Dr. Ichsan Hatib yang menggagas ide inovatif ini.

Dalam kegiatan launching Wanua Museum ini, Ichsan bertindak sebagai Koordinator tim peneliti sekaligus sebagai kreatif director.

“Ide ini sudah dipikirkan sejak tahun 2017 dengan tujuan mengembalikan kejayaan Bone sebagai pusat literasi Suku Bugis berbasis digital. Namun baru dapat terwujud di tahun 2023 berkat adanya pendanaan dari Program Dana Indonesiana dari Dirjen Kebudayaan dan LPDP ini,” jelas Ichsan yang merupakan dosen Seni Unnes Semarang ini.

Dengan memakai teknologi virtual reality metamesta, Ichsan berharap bisa mendorong minat semangat para generasi millenial, zillenial, dan alpha untuk belajar sambil bermain melalui penciptaan dunia baru semacam ini.

Dalam kesempatan tersebut Ichsan merasa kecewa dengan ketidakhadiran perwakilan dari Pemerintah Daerah Bone pada acara launching tersebut.

Menurutnya, inilah karya nyata dari Anak Bone yang berhasil membuat musium virtual pertama di Indonesia.

“Saya sangat kecewa dengan ketidakhadiran perwakilan pemda bone. Apalagi, karya ini pertama di indonesia murni karya anak bone yang perlu perhatian khusus,” ucapnya.

Foto: Berpose bersama setelah kegiatan launching Wanua Museum. (Enews)

“Kedepannya, Wanua Museum akan terus dikembangkan. kita berharap, para pemangku kepentingan dan dinas terkait bisa berkolaborasi dan membantu upaya ini,” sambungnya.

Sementara itu, Mewakili Dirjen Kementerian kebudayaan yakni, Kepala Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah XIX Drs. Laode Muhammad Aksa, M. Hum. mengatakan, ini merupakan karya inovasi pemuda pemudi bone yang sangat luar biasa yang di inisiasi oleh RKBB.

“Pemerintah pusat selalu memfasilitasi kaum milenial bagaimana melahirkan inovasi dan kreatifitas yang muaranya bisa memajukan kebudayaan khususnya di daerah masing-masing,” katanya.

Menurtnya, ide Wanua Museum merupakan ide cerdas. karena secara virtual bisa dijangkau masyarakat Bugis Bone yang berada di manapun masuk kedalam menikmati kembali bagaimana sandang, pangan, dan papan masyarakat suku Bugis tempo dulu melalui viar ini.

“Wanua Museum ini menjadi bagian kehidupan kita melalui virtual sehingga kita bisa mendapatkan informasi bagaimana kehidupan masyarakat suku bugis bone masa lampau. terima kasih dan kerjasamanaya sehingga Wanua musium bisa di nikmati oleh masyarakat secara virtual,” pungkasnya. (Am)