ENEWS, POLMAN ••》Kelangkaan Pertalite di sejumlah SPBU Kabupaten Polewali Mandar (Polman), Sulawesi Barat, mulai memicu keresahan masyarakat. Selama dua hari terakhir, warga harus menghadapi antrean panjang yang mengular hingga sekitar 500 meter bahkan mencapai 1 kilometer.
Ironisnya, ketika warga kesulitan mendapatkan Pertalite di SPBU, BBM jenis yang sama masih ditemukan dijual oleh pengecer dengan harga jauh di atas harga resmi.
Sejumlah warga mengaku terpaksa membeli Pertalite eceran karena tidak sanggup menunggu lama di SPBU atau khawatir kendaraan kehabisan BBM.
Rahman, salah seorang warga, mengaku membeli Pertalite eceran seharga Rp35 ribu untuk sekitar 1,5 liter.
Keluhan serupa disampaikan Mama Diana. Ia mengatakan membeli Pertalite eceran pada Selasa pagi saat hendak ke pasar untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga.
“Tadi pagi waktu ke pasar, beli ikan dan perlengkapan dapur untuk kebutuhan pokok. Saya harus membeli BBM jenis Pertalite dengan harga Rp35 ribu per 1,5 liter,” ujarnya kepada Enewsindonesia, Selasa (8/9/2026).
Menurutnya, membeli BBM dengan harga tinggi menjadi pilihan terpaksa karena kebutuhan mobilitas tidak bisa dihentikan.
“Terpaksa kami beli dengan harga Rp35 ribu itu. Mau bagaimana lagi? Kalau sepeda motor tidak diisi BBM, bisa-bisa kita harus mendorong motor ke pasar kalau kehabisan BBM,” keluhnya.
Kondisi ini memunculkan pertanyaan yang kini menunggu jawaban dari pihak berwenang: mengapa Pertalite sulit diperoleh di SPBU, sementara BBM yang sama masih tersedia di tingkat pengecer?
Pertanyaan lain yang tak kalah penting adalah dari mana pasokan Pertalite yang dijual pengecer tersebut berasal?
Pertanyaan tersebut penting dijawab secara terbuka agar masyarakat tidak terus berada dalam posisi dirugikan. Apalagi, Pertalite merupakan BBM yang mendapatkan subsidi dan penyalurannya memiliki mekanisme serta pengawasan tersendiri.
Jika persoalannya murni akibat keterbatasan pasokan, masyarakat tentu membutuhkan penjelasan mengenai penyebabnya, berapa pasokan yang tersedia, berapa kebutuhan harian, serta kapan kondisi diperkirakan kembali normal.
Namun, jika terdapat persoalan dalam rantai distribusi, pemerintah dan aparat terkait perlu memastikan pengawasan berjalan efektif agar BBM bersubsidi benar-benar sampai kepada masyarakat yang berhak.
Warga juga menyoroti keterbatasan jumlah SPBU di Polman. Antrean yang mencapai ratusan meter hingga sekitar 1 kilometer dinilai menunjukkan tingginya tekanan terhadap fasilitas penyaluran BBM yang ada.
Penambahan titik SPBU dinilai dapat menjadi solusi jangka panjang. Namun, penambahan fasilitas saja tidak cukup apabila persoalan utama berada pada ketersediaan dan distribusi pasokan.
Kini yang ditunggu masyarakat bukan sekadar tambahan pasokan, tetapi kejelasan. Apa penyebab Pertalite langka di SPBU? Bagaimana distribusinya? Dan mengapa BBM yang sulit didapat warga di SPBU justru masih bisa dibeli secara eceran dengan harga Rp35 ribu per 1,5 liter?
Pemerintah dan pihak terkait perlu memberikan jawaban agar kelangkaan BBM tidak berkembang menjadi persoalan yang lebih besar di tengah masyarakat.
Reporter: Hasbi Waluyo






