Bone  

Parah! Oknum Kades Barebbo Diduga Aniaya Anak di Bawah Umur Disaksikan Babinsa dan Bhabinkamtibmas

Ilustrasi. (Ist)

ENEWSINDONESIA.COM, BONE – Kepala desa patutnya menjadi pemimpin dan pelindung bagi masyarakatnya, karena kepala desa terpilih karena kemauan masyarakatnya.

Namun lain halnya dengan oknum Kepala Desa Barebbo bernama Arsyad di Kecamatan Barebbo, Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan. Oknum kades tersebut diduga menganiaya dua orang warganya bahkan salah satu korban merupakan anak di bawah umur.



Korbannya bernama Muhammad Syahrir (16) dan Fajar Budiman (19).

Menurut orang tua salah seorang korban dugaan penganiayaan tersebut, Hj Cahaya mengungkapkan awal mula kejadian saat anaknya bersama pemuda lainnya sedang berjoget di kantor desa pada Sabtu malam (5/8/2023).

“Nah, ada salah seorang temannya yang memvideo dan menyebarnya di media sosial. Karena adanya video itu, Kades memanggil anak-anak tersebut termasuk anak kami ke kantor desa pada hari Senin (7/8/2023) lalu,” ungkap Hj Cahaya saat disambangi di kediamannya di Desa Barebbo oleh Enewsindonesia.com, Jum’at (11/8/2023).

Lebih lanjut Hj Cahaya memaparkan, saat para pemuda tersebut dipanggil ke kantor desa dan para orang tua juga dihadirkan.

“Mulai setengah 2 siang hingga setengah 6 sore di kantor desa,” kata Hj Cahaya.

Hj. Cahaya menyebut, oknum kades menganiaya anaknya di depan matanya.

“Di depan saya secara terang-terangan, anak saya dipegang leher bajunya kemudian dibentutkan ke tembok lalu ditendang di bagian paha dan kakinya. Lalu sepupunya ditempeleng dan ditendang,” sebut Hj Cahaya.

Parahnya lagi, kata Hj Cahaya, aksi penganiayaan tersebut disaksikan oleh oknum Bhabinsa dan Bhabinkmtibmas setempat.

“Tapi itu polisi sama tentara hanya tinggal diam lihat itu penganiayaan,” ujarnya.

Ditambahkannya, Hj Cahaya mengaku telah melaporkan kejadian ini ke pihak Polres Bone pada Selasa malam (15/8/2023).

“Waktu saya di kantor polisi, ada oknum polisi yang bilang, ‘ko mappakkero, ammekkorang bawanni’ (hal begini diamkan saja). Lalu polisi itu berlalu entah kemana,” ujar Hj. Cahaya.

“Semoga kami bisa dapat keadilan, apalagi penganiayaan tersebut di depan mata kepala kami,” tutupnya.