Nasib Museum Perang Dunia II Muhlis Eso, Ini Tanggapan Kadis Pariwisata Morotai

ENEWSINDONESIA.COM, MOROTAI – Muhlis Eso salah satu warga Desa Joubela, Kecamatan Morotai Selatan, Provinsi Maluku Utara mengumpulkan sisa – sisa perang dunia ke- 2 dan membuat sebuah museum pribadi di sekitar desa tersebut.



Namun Muhlis Eso mengeluhkan museum yang telah dibangunnya tak diperhatikan pemerintah setempat.

“Untuk penerangan itu dari tahun 2014 sampai sekarang belum masuk/belum pernah dapat, memang ada lampu jalan tetapi hanya desa punya. Sedangkan penerangan di sekitar museum dan di dalamnya itu tidak ada sampai sekarang, padahal museum ini adalah salah satu pusat pendidikan tentang cerita masa lampau,” ujar Muhlis kepada Enewsindonesia.com, Ahad (14/8/2022).

Dia mengatakan, terkadang ada pengunjung datang ketika malam dan harus menyalakan lampu kendaraannya untuk melihat koleksi museumnya.

Baca: https://enewsindonesia.com/koleksi-museum-pribadi-muhlis-eso-jejak-jejak-perang-dunia-ii-di-morotai/

Menanggapi hal tersebut, Kepala Dinas (Kadis) Parawisata Kabupaten Pulau Morotai, Kalbi Rasid mengatakan, berbicara tupoksi, museum itu masuk dalam bidang pendidikan dan kebudayaan.

“Dia (Muhlis Eso) telah menyampaikan hal itu dan saya juga baru beberapa bulan ini menjadi kepala dinas,” kata Kadis Parawista ketika ditemui di Lapangan Merah Putih, Morotai, Rabu (17/8/2022).

Kalbi Rasid

Dia mengaku telah bertemu Muhlis Eso dua hari sebelumnya dan dia telah menyampaikan keluhan tersebut.

“Kalau itu juga memang menjadi perhatian Dinas Parawisata maka Insyaallah Dinas Parawisata juga akan memberikan perhatian,” ujarnya.

Untuk realisasi keluhan dari Muhlis Eso, lanjut Kalbi, pihaknya belum bisa janji, karena untuk anggaran tahun ini, pihaknya akan berkoordinasi ke pimpinan.

“Jadi intinya ini juga menjadi perhatian pemerintah daerah khususnya Dinas Parawisata tetapi kami meminta waktu untuk mengkaji untuk bisa dibantu, Insyaallah di tahun 2023,” tutupnya.

Diketahui, Pertempuran Morotai terjadi pada tanggal 15 September 1944 pada akhir Perang Dunia II. Pertempuran dimulai ketika tentara Amerika Serikat dan Australia mendarat di Morotai bagian barat daya. Basis di Morotai dibutuhkan untuk membebaskan Filipina.

Foto: Istimewa

Jumlah tentara yang menyerang jauh lebih banyak dari Jepang. Bantuan Jepang mendarat pada Oktober dan November, tetapi kekurangan persediaan untuk menyerang Sekutu.





Editor: Abdul Muhaimin

Tinggalkan Balasan