ENEWSINDONESIA.COM, Morotai – Dikutip dari Wikipedia, Pertempuran Morotai terjadi pada tanggal 15 September 1944 pada akhir Perang Dunia II. Pertempuran dimulai ketika tentara Amerika Serikat dan Australia mendarat di Morotai bagian barat daya. Basis di Morotai dibutuhkan untuk membebaskan Filipina.
Jumlah tentara yang menyerang jauh lebih banyak dari Jepang. Bantuan Jepang mendarat pada Oktober dan November, tetapi kekurangan persediaan untuk menyerang Sekutu.

Pertempuran terus berlanjut hingga akhir perang, dengan tentara Jepang menderita korban jiwa yang besar akibat penyakit dan kelaparan. Beberapa prajurit Jepang di sana masih terus bertahan dan menolak menyerah. Salah satunya adalah Teruo Nakamura, yang baru berhasil diamankan pada 18 Desember 1974.
Mengabadikan peristiwa tersebut, Muhlis Eso salah satu warga Desa Joubela Kecamatan Morotai Selatan, mengumpulkan sisa – sisa perang dunia 2 dan membuat sebuah museum pribadi disekitar desa tersebut.

Dalam museum pribadinya, Muhlis mengumpulkan berbagai macam koleksi diantaranya, peluru, botol, sepeda, senjata api, bom, dan lainnya.

“Banyak sekali tamu-tamu dari luar yang datang berkunjung. Setiap tamu yang datang itu saya memberikan kertas dan pena agar mereka menulis kesan dan pesan, Alhamdulillah mereka sangat merespon,” kata Muhlis saat ditemui Jurnalis Enewsindonesia.com di museum tersebut, Ahad (14/8/2022).
Muhlis mengaku, dia menemukan barang – barang peninggalan sejarah tersebut di sekeliling desa-desa yang ada di Pulau Morotai dan di hutan Pulau Morotai.
Tetapi Muhlis Eso sedikit kecewa dengan Pemerintah Daerah (Pemda) yang kurang memperhatikan hal tersebut.
“Untuk penerangan itu dari tahun 2014 sampai sekarang belum masuk/belum pernah dapat, memang ada lampu jalan tetapi hanya desa punya. Sedangkan penerangan di sekitar museum dan di dalamnya itu tidak ada sampai sekarang, padahal museum ini adalah salah satu pusat pendidikan tentang cerita masa lampau,” ujarnya.
Lebih lanjut, Muhlis mengatakan bahwa dirinya tidak meminta lebih kepada Pemerintah Daerah, di momen HUT RI ke- 77 ini, setidaknya dinas terkait khususnya Dinas Pendidikan dan Dinas Parawisata agar bisa meninjau museum tersebut.
“Agar dinas terkait bisa mengetahui apa yang saya butuhkan, sejauh ini pondok-pondok kecil yang di depan museum itu saya yang bikin sendiri dengan bambu,” paparnya.

Dia menyebut pernah diminta pemerintah untuk pergi ke museum yang ada di desa Wawama, yang biasa di kenal dengan TRIKORA.
“Saya tidak mau kerna banyak kendala-kendala,” kesalnya.


Muhlis mengungkapkan, museum pribadinya tersebut, berasal dari dana swadaya dan sedikit bantuan dari mantan bupati Benny Laos.
“Setidaknya Dinas Parawisata dan Dinas Pindidikan coba datang ke sini agar supaya tahu, ternyata di dalam museum itu gelap. Kadang tamu yang tinggal sampai malam itu menyalakan lampu mobil agar bisa melihat barang-barang yang ada di dalam museum,” kata Muhlis.
Jurnalis: Ranto Daeng Badu






