‘Mappadaung Arajang’, Salah Satu Rangkaian Acara Menyambut Hari Jadi Bone 692

ENEWSINDONESIA.COM, BONE – Pemerintah Daerah Kabupaten Bone yang dipimpin langsung oleh Bupati Bone, Andi M Fahsar Padjalangi, menggelar acara ‘Mappadaung Arajang’ dalam rangka menyambut hari jadi bone 692 pada hari Senin 14 Maret 2022 bertempat di Bulu Tempe, Kecamatan Palakka, Kabupaten Bone, Sulawesi selatan.

Dalam rangkaian acara itu, ‘Bissu’ (orang yang dalam sejarahnya membersihkan benda-benda pusaka), melakukan aksi ‘Maggiri’ (mengiris badannya dengan menggunakan badik).

banner 728x250

Andi Mantra Bumi sendiri sebagai Content Porer yang memperagakan aksi ‘Maggiri‘ tersebut mengatakan hal ini bukan semata – mata untuk menyombongkan diri dan pamer kekebalan.

“Tapi ini adalah bentuk cinta tanpa syarat, membunuh keraguan, dan melatih tingkat kepasrahan kita kepada sang pencipta. Karena hanya orang yang pasrah mengajarkan kita tidak selalu untuk memiliki,” terang Andi Mantra Bumi saat ditemui di sebuah Warkop di Jalan Jendral Sudirman Watampone, Selasa (15/3/2022).

Lanjut Andi Mantra Bumi, sebagai generasi muda, dengan cara ini dia bisa menghadirkan muda yang ‘Maggiri‘. Agar anak muda milenial merasa penasaran dan setelah merasakan penasaran, mereka punya keinginan untuk menggali informasi ‘Maggiri‘ yang secara tidak langsung mereka belajar tentang budayanya sendiri.

“Ini adalah warisan leluhur kita yang wajib dilestarikan. Ingat jangan lupakan identitas kita sebagai orang Bone!” Sambungnya.

Sekedar informasi, Mabbissu berasal dari kata Bissu yang mendapat tambahan awalan ma yang berarti melakukan tarian Bissu. Sementara Bissu berasal dari kata Bessi, yang berarti bersih atau suci dan kuat. Mereka dipanggil Bissu karena tidak haid, tidak berdarah, atau suci. Dikatakan tidak berdarah karena Bissu ini kebal terhadap senjata tajam, tidak mampu ditembus oleh keris, parang atau timah panas. Makanya, di setiap upacara ritual, para Bissu selalu mempertontonkan kesaktian mereka dalam bentuk tari yang disebut dengan Mabbissu atau Tari Bissu.

Sere atau satu (Tari) Bissu Maggiri juga rangkaian ritual adat Mappakuru Sumange (memberi semangat) dan Matolak Bala (tolak bencana) dengan permohonan kepada Dewata Sewwuae (Allah S.W.T yang maha kuasa).

Bissu di Sulawesi Selatan dikenal pertama kali di kerajaan Luwu, dan lebih terkenal lagi di Kabupaten Bone dan Wajo bersamaan munculnya ‘Tau Manurung’ (masih turunan raja Luwu), sebagai raja Bone pertama.

Peran Bissu pada zaman kerajaan tersebut, sebagai pendeta Bugis kuno yang bisa berhubungan langsung dengan sang ‘Dewata Sewwae’ (Tuhan Yang Maha Esa) sebelum agama Islam masuk di kerajaan Bone. Bissu juga berperan dalam pelantikan raja-raja di Kabupaten Bone.





Editor: Abdul Muhaimin

Tinggalkan Balasan