Bone  

Kades Mattirobulu Buka Suara Terkait Warganya Dikenakan Tarif Penggunaan Mobil Layanan Sosial

Foto: Darma dan Sali (warga Desa Mattirobulu) saat menggunakan mobil angkutan umum sepupang berobat di RSUD Tenriawaru Bone. (Ist)

ENEWSINDONESIA.COM, BONE – Kepala Desa Mattirobulu, Kecamatan Libureng, Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan, Jading buka suara terkait keluhan warganya yang dikenakan tarif Rp 300 ribu saat menggunakan mobil layanan sosial desa.

Baca: 

banner 728x250

Jading mengungkapkan, bahwa mobil layanan sosial tersebut tidak dianggarkan terkait biaya operasional dan perawatan.

“Tidak dianggarkan terkait itu, kami cuma menyediakan. Yang ingin menggunakannya silakan tanggung biaya operasionalnya. Sopirnya sudah kami sediakan,” kata Jading ke Enewsindonesia.com melalui sambungan telpon seluler, Sabtu (29/4/2023).

Jading menambahkan, terkait keluhan warganya saat ingin kembali dijemput di RSUD Tenriawaru Bone, Jading mengatakan bahwa ban mobil tersebut kempes.

“Belum ada dana untuk perbaikannya,” tambahnya.

Dikonfirmasi terpisah, Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat Desa (PMD) Kabupaten Bone, Gunadil Ukra menyatakan bahwa mobil layanan sosial desa tidak semua dianggarkan.

“Tergantung dari pemerintah desanya mau menganggarkan biaya perawatannya dan operasionalnya,” ujar Gunadil.

Sebelumnya diberitakan, mobil Layanan Sosial Desa Mattirobulu Kecamatan Libureng, Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan diduga tidak efektif dalam penggunaannya.

Salah satu warga Desa Mattirobulu, Sali yang  menggunakan layanan sosial menuju Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) di Kabupaten Bone dikenakan tarif Rp 300 ribu.

Sali diketahui adalah warga kurang mampu. Istri Sali, Darma mengatakan, saat itu, kondisi suaminya (Sali. Red) sakit parah dan harus ditangani dokter secepatnya sehingga pihaknya harus mengiyakan biaya tersebut.

“Waktu mauka ke Bone bawa suamiku kerumah sakit pakai mobil layanan sosial dikasi bayarka Rp 300 ribu. Tapi waktuku mau pulang, kutelfon lagi untuk minta tolong dijemput kata sopirnya meletus banya,” ungkap Darma ke Enewsindonesia.com, Sabtu (29/4/2023).

Hal tersebut, kata Darma membuat dirinya kecewa dengan pemerintah desa Mattirobulu.

“Karena saya kan, tidak tahu apa-apa di Bone. Jadi saya minta tolong dijemput ternyata ban mobilnya meletus, entah itu alasan saja atau memang iya. Pasti ada ban serepnya,” kata dia.

Sehingga Darma harus menggunakan kendaraan umum yang mereka sewa sebesar Rp 300 ribu untuk kembali kerumahnya yang lokasi rumahnya yang berlokasi di daerah pegunungan. (Mimienk Lee)





Tinggalkan Balasan