Harga Bersahabat, Warga Sinjai Juara Belanja Gorengan di Sulsel

Ilustrasi gorengan.
Ilustrasi gorengan.

ENEWS, SINJAI ••》Kalau ada perlombaan membeli gorengan, warga Sinjai agaknya punya peluang besar membawa pulang piala.

Bukan sekadar gurauan. Data Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Sulawesi Selatan menunjukkan Kabupaten Sinjai menempati peringkat pertama dalam rata-rata pengeluaran per kapita seminggu untuk makanan gorengan, seperti tahu, tempe, bakwan, dan pisang.

banner 728x250

Data tersebut merupakan hasil Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) Maret 2025.

Dalam data tersebut, pengeluaran masyarakat Sinjai untuk gorengan mencapai Rp3.281 per kapita setiap minggu. Angka itu menjadi yang tertinggi dibandingkan 24 kabupaten/kota di Sulawesi Selatan.

Kabupaten Pinrang berada di posisi kedua dengan rata-rata pengeluaran Rp3.227 per kapita per minggu.

Pejabat Fungsional BPS Kabupaten Sinjai, Hamka Makmur, membenarkan posisi tersebut. Menurutnya, salah satu faktor yang memungkinkan tingginya pengeluaran warga Sinjai untuk gorengan adalah harganya yang relatif murah.

“Benar, Sinjai peringkat pertama paling suka beli gorengan dari hasil Susenas karena di wilayah Sinjai masih tergolong murah dibanding kabupaten/kota lainnya,” kata Hamka saat dikonfirmasi Enewsindonesia melalui telepon, Kamis (10/9/2026).

Harga gorengan yang bersahabat dengan isi dompet memang masih mudah ditemukan di sejumlah pasar tradisional Sinjai.

Hamka menyebut pihaknya masih menemukan pedagang yang menjual tiga biji gorengan hanya dengan harga Rp2.000.

Tahu isi, misalnya. Dengan uang Rp2.000, pembeli sudah bisa membawa pulang tiga biji. Ukurannya memang tidak terlalu besar, tetapi cukup untuk menemani secangkir kopi atau sekadar mengganjal perut.

“Kami masih menemukan harga gorengan seperti tahu isi di beberapa pasar tradisional kecamatan dengan harga Rp2.000 per tiga biji, meski ukurannya tidak terlalu besar,” bebernya.

Jika dihitung sederhana, gorengan di Sinjai memang menjadi teman yang relatif ramah bagi kantong. Dengan harga Rp2.000 untuk tiga biji, seseorang tidak perlu menjadi sultan untuk bisa menikmati tahu isi, bakwan atau pisang goreng.

Tak heran jika gorengan kemudian menjadi bagian dari pengeluaran konsumsi masyarakat yang tercatat dalam Susenas.

Namun, predikat peringkat pertama tersebut bukan berarti setiap warga Sinjai setiap hari menghabiskan uang ribuan rupiah khusus untuk gorengan. Angka Rp3.281 merupakan rata-rata pengeluaran per kapita per minggu, bukan jumlah yang wajib dihabiskan setiap orang.

Data ini justru memperlihatkan satu hal menarik tentang pola konsumsi masyarakat Sinjai: makanan gorengan masih menjadi pilihan yang mudah dijangkau ketika harga menjadi pertimbangan.

Di tengah harga kebutuhan yang terus menjadi perhatian masyarakat, gorengan hadir dengan formula sederhana: murah, mudah ditemukan dan cepat disantap.

Jadi, jika suatu sore melihat warga Sinjai membawa sebungkus gorengan, jangan buru-buru menuduh mereka sedang boros.

Bisa jadi, mereka sedang mempertahankan posisi Sinjai sebagai juara gorengan Sulawesi Selatan.

Jurnalis: Asrianto