Bersama sebagai Manusia yang Beragama

Foto: Nazwar, S. Fil. I., M. Phil.

Oleh: Nazwar, S. Fil. I., M. Phil.

Penulis Lepas Lintas Jogja- Sumatera

banner 728x250

Bersama tidak harus senantiasa melakukan sesuatu secara bersama-sama. Sekedar bicara atau mengobrol satu sama lain saling mengisi berupa obrolan-obrolan juga termasuk di antara bentuk kebersamaan. Perasaan rela untuk berbagi dan ditimpali sekedar dalam obrolan dapat mendatangkan kebaikan tersendiri. Manusia sebagai makhluk Allah yang dikaruniai berbagai keunikan dibanding makhluk lain, seperti bisa menyendiri atau bersosial, tidak hanya merasakan dengan karunia Allah berupa perasaan namun juga mampu berpikir dan berbagai kelebihannya.

Gereja adalah legalisasi kesalahan selanjutnya. Dikatakan selanjutnya lantaran sebelumnya penulis pernah menulis tema serupa seputar legalisasi kesalahan manusia yang terorganisir. Manusia melakukan kesalahan namun klaim berbentuk lembaga menjadikannya eksis dan kian kokoh. Layaknya suatu lembaga yang memiliki paradigma, termasuk visi dan misi yang dibangun di dalamnya, di zaman postmodern ini membuka gereja memproduksi kebenaran relitif internalnya meski zaman sekarang semakin terang oleh kebenaran.

Uniknya, terkadang menjengkelkan, terdapat dari manusia yang menyeru untuk berbuat kebajikan namun mereka melupakan diri mereka sendiri. Kedua kondisi ini ini, unik dan menjengkelkan adalah sikap yang menunjukkan sikap superioritas bahkan sikap bodoh yang nyata atas ketetapan kebenaran Tuhan.

Sikap dalam lingkungan anak pesantren dikenal dengan istilah “kaburo maqtan” ini tidak hanya berlaku di hadapan manusia, namun perilaku menyuruh namun dia sendiri tidak melakukan akan mengantarkan pelakunya ke jurang kemurkaan Tuhan. Sayangnya, hal ini banyak dilakukan oleh manusia sepanjang zaman.

Beberapa pelaku asketik misalnya, terbiasa melakukan apa yang mereka sebut dengan penyucian jiwa sengaja fokus pada penekanan kejiwaan namun meninggalkan amalan. Diakui, proses ini terdapat tantangan, satu sisi pengamalan kebaikan dalam ajaran gereja sulit ditemukan otensitasnya, pengamalan ajaran kebaikan juga sulit ditemukan sosok yang dapat dijadikan teladan dalam ajaran mereka.

Pelembagaan agama membawa konsekuensi lagi, di antaranya terdapat otoritas kekuasaan dalam hal ini berkuasa dalam agama, baik terkait fatwa/keputusan, ritual dalam ibadah juga berbagai aturan-aturan yang berkaitan dengan hukum Tuhan berada dalam otoritas manusia. Kerumitannya akan kian kentara tatkala terdapat perbedaan pandangan dalam suatu perkara, maka akan melahirkan perbedaan pandangan seperti dapat menimbulkan berbagai aliran-aliran dalam ajaran (gereja) yang dianut.

Kembali kepada topik bahasan bahwa bersama sebagai manusia yang beragama juga tidak dengan menggerus apa yang melekat pada masing-masing, baik agama atau manusia; otensitas agama dan fitrah manusia, “Allahu a’lam!”