ENEWS, BONE ••》PT ASDP Indonesia Ferry (Persero) melibatkan 25 pekerja lokal, termasuk tukang ojek dan warga yang selama ini beraktivitas di Pelabuhan Bajoe, dalam proyek rehabilitasi dermaga yang akan berlangsung mulai 1 Mei hingga 1 Juni 2026.
Keterlibatan tenaga lokal ini menjadi bagian dari upaya pemberdayaan masyarakat terdampak selama penutupan sementara pelabuhan.
Selain 25 pekerja lokal, ASDP juga menurunkan 15 tenaga dari pusat, sehingga total pekerja dalam proyek tersebut mencapai 40 orang.
General Manager PT ASDP Indonesia Ferry Cabang Bajoe, Anom Sedayu Panatagama, mengatakan langkah ini diambil untuk tetap menjaga perputaran ekonomi warga sekitar selama proses rekonstruksi berlangsung.
“Penutupan ini bersifat sementara, namun kami tetap melibatkan masyarakat lokal agar tetap memiliki penghasilan selama pekerjaan berjalan,” jelas Anom saat gelaran Media Gathering di kantor ASDP Bajoe, Selasa 28 April 2026.
Selain membuka lapangan kerja sementara, ASDP juga menyalurkan 500 paket sembako dan akan menggelar pelatihan kewirausahaan bagi warga sekitar pelabuhan.
Sementara itu, Eksekutif Director ASDP Regional IV, Samsuddin, menjelaskan rehabilitasi dilakukan karena kapasitas dermaga yang ada saat ini sudah tidak lagi memadai.
“Daya tahan sebelumnya sekitar 30 ton, dan akan ditingkatkan menjadi 50 ton, menyesuaikan dengan peningkatan beban kendaraan saat ini,” jelasnya.
Selama masa pekerjaan, operasional Pelabuhan Bajoe akan dihentikan sementara dan dialihkan ke Pelabuhan Siwa dengan estimasi waktu sekitar satu bulan.
Meski ditutup, aktivitas layanan tetap diupayakan berjalan terbatas. Pembelian tiket juga tetap dapat dilakukan seperti biasa, termasuk melalui PN Line dengan tarif yang tidak mengalami perubahan.
ASDP berharap proses rehabilitasi dapat berjalan lancar dan selesai tepat waktu, sehingga Pelabuhan Bajoe dapat kembali beroperasi dengan fasilitas yang lebih aman dan memadai. (Red)






