banner 728x250 . banner 728x250
CERPEN  

Arus Hitam Reformasi

ENEWSINDONESIA.COM

Penulis : Sofyan (Mahasiswa Teknik Peternakan UIN Alauddin Makassar)

banner 728x250

Anak itu tumbuh liar di jalanan, Koran baru, Koran bekas, ditentengnya di tangan kiri lalu kepalan tangan kanan menggengam erat masa depan yang teryakini akan merubah hidup dari gelandangan menjadi Konglomerat.

Cerutu di mulut tidak lepas sembari mengoceh. Koran-koran sudah tidak begitu laku, ini semua karena internet sialan itu yang mewakili laporan-laporan miris penguasa ‘laknat’.

Awan begitu bersih, tidak ada tanda-tanda air hujan akan turun, menyeruput kopi instan yang dibelinya dari Pedagang Asongan. Mejhon bahkan tidak pernah tahu, apakah kopi itu sudah kadaluwarsa atau belum?

Sabtu siang, Mejhon melanjutkan rute perjalanan yang membakar hangus mukanya yang masih belia itu, dari lampu merah Jalan Perintis Kemerdekaan (di depan Kampus Unhas), menuju Jalan Layang (fly over).

“Sudah laku berapa exampler Jhon?” Suara itu bersumber dari Gubuk reok disamping Jembatan Kali.

“Belum ada yang laku Daeng Ogah,” sambil melangkah ke gerobak dorong pak Ogah.

“Akan kusimpan sampah-sampah kotor pemangku kekuasaan di gerobak dorongmu pak Ogah, barangkali koran bekas yang tidak laku ini bisa menyumpal perutmu yang kosong itu,” kata Jhon.

Ditimpal balik oleh pak Ogah, “Mau-maunu, simpammi disitu (terserah kamu, simpan saja disitu ), bahasa Makasssar.”

Di depan Kantor Gubernur, tepatnya Selasa, 17 Desember, kerumunan orang bergelimpangan ditengah jalan. Ada beberapa titik api yang berkobar, mobil parkir berserakan, di tengah jalan, disamping trotoar, dan sebuah mobil truck pengangkut property yang tampaknya paling besar diantara mobil lainnya, berdiri perkasa di perut jalananan itu.

Sebagian dari mereka bahu-membahu menaiki tangga panggung keadilan itu. Dialah Mahasiswa yang memekikkan suara dengan pengeras suara, mengutuk keras ketidakadilan, korupsi, dan berbagai ketimpangan kebijakan yang ditelurkan oleh penguasa.

Melihat hal itu, Mejhon menepuk tangan, dan melompat gembira, baju lusuh serta celana cingkrangnya melambai lambai tertiup polusi di Kota Daeng.

Tidak mengambil pusing, apakah Aparat Keamanan atau Mahasiswa yang berakhir adu jotos?

Yang terpenting adalah ini merupakan lahan basah.

“Rejeki nomplok,” kata Mejhon si penjual Koran.

Sebuah peluru melayang di angkasa, bahkan sekilas terlihat seperti Bom. Mengangkasa, melandai, dan terhempas ke bumi.

“Gas air mata, Lariiiiiii….!” Teriak kerumunan Mahasiswa dan Masyarakat.

Namun Kesatria yang memimpin gerakan itu tetap bertahan di panggung keadilan.

“Jangan pernah takut kawan-kawanku!”

“Mahasiswa ini adalah asap Neraka Jahannam dari dosa Pemerintah, dosa Soekarno, terlebih kepada Soeharto dan tidak lagi ini adalah dosa setan setan serta Jin Iblis di Villa-villa Mafia gendeng,” teriak kesatria itu dengan lantang dengan pengeras suara.

Apapun yang mereka katakan, mereka tidak peduli panas dan campuran kimia yang merasuk di pori-pori wajahnya di siang bolong.

Tentunya para kaum borjuis tengah sibuk menikmati hidangan mewah di Restoran mahal.

Melihat hal itu, Mejhon, yang sedari tadi di Halte Bus hanya menuggu sandiwara public ini selesai.

Senja mendekap, siang itu telah berlalu, ada banyak korban tertulis dikoran akibat dari gerakan itu.

Mejhon berteriak, “laknat, bedebah, siapa yang telah membunuh aktivis Ormas Islam? Sungguh arwahnya tidak akan tenang melihat ketidakadilan di Negeri ini.”

Begitulah kata pak Ogah, kerap arwah akan gentayangan atau mati penasaran akibat dari kematian sadis seperti itu.

Makassar, Jum’at, 24, Desember, 2020.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *