ENEWS, BONE •• Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) masih menjadi penyakit yang paling sering dialami warga di Kabupaten Bone sepanjang Oktober 2025. Kondisi cuaca yang berubah cepat disebut menjadi salah satu pemicunya.
Rahma (34), warga Kelurahan Tibojong, mengaku dalam sebulan terakhir anaknya dua kali mengalami batuk dan pilek.
“Cuacanya tidak menentu, kadang panas sekali, lalu tiba-tiba hujan. Anak saya jadi gampang terserang batuk dan pilek. Syukur puskesmas cepat tanggap, jadi tidak sampai parah,” ujarnya, Jumat 7 November 2025.
Dirinya berharap edukasi kesehatan lebih sering digelar di lingkungan padat penduduk.
“Kalau bisa ada penyuluhan lebih sering di lingkungan kami. Soalnya banyak anak kecil di sini, dan mereka mudah saling menulari,” tambahnya.
Sementara itu, Seksi Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular (P2M) Dinas Kesehatan Bone mencatat 3.300 kasus ISPA selama Oktober 2025. Jumlah tersebut jauh lebih tinggi dibandingkan penyakit lain seperti diare sebanyak 393 kasus dan tuberkulosis (TBC) sebanyak 255 kasus.
Kasi P2M Dinkes Bone, Komarudin, menyebut perubahan cuaca memengaruhi kondisi kesehatan masyarakat.
“Cuacanya sekarang cepat sekali berubah, dari panas terik ke hujan deras. Kondisi seperti ini membuat daya tahan tubuh banyak orang menurun, terutama anak-anak dan lansia. Karena itu, kami selalu mengingatkan warga untuk menjaga kebersihan lingkungan dan meningkatkan daya tahan tubuh,” katanya.
Selain ISPA, diare juga masih menjadi perhatian karena erat kaitannya dengan sanitasi dan perilaku hidup bersih.
“Kami tidak hanya menunggu warga datang berobat. Puskesmas dan kader kesehatan desa kami dorong untuk turun langsung mengedukasi masyarakat. Hal-hal sederhana seperti cuci tangan, kebersihan makanan, dan penggunaan air bersih itu penting sekali, tapi sering diabaikan,” jelasnya.
Sementara untuk TBC, pengawasan pengobatan terus berjalan melalui pendampingan pasien.
“Pengobatan TBC memang tidak sebentar. Karena itu, kami selalu menekankan agar pasien tidak berhenti minum obat sebelum dinyatakan sembuh. Jika terputus di tengah jalan, itu bisa membuat bakteri jadi kebal obat dan pengobatannya jauh lebih sulit,” tegasnya.
Dinkes Bone memastikan program promotif dan preventif akan terus diperkuat melalui puskesmas dan kader kesehatan untuk menekan jumlah kasus penyakit menular di masyarakat. (Red)






