ENEWS  

Perum Bulog Bone Akui Kewalahan Serap Gabah Petani

Ilustrasi. (Dok. ENews)

ENEWS BONE •• Pemimpin Wilayah Perum Bulog Kancab Bone, Maysius P menyampaikan bahwa kendala yang dialami pihaknya saat ini adalah sarana pabrik gabah di Bone telah over kapasitas. Hal itulah yang membuat pihaknya kewalahan menyerap gabah petani.

“Bukan kurang armada, tetapi sarana pabrik gabah di Bone sudah over kapasitas. Di mana mitra makloon di Bone sudah penuh dengan gabah serapan lokal. Jadi kami memanfaatkan kondisi apabila ada ruang kosong lagi, bisa masuk gabah ke pabrik. Kami akan masukkan gabah lagi ke pabrik,” ungkapnya, Selasa (25/03/25) kemarin.



Ia menerangkan bahwa kondisi yang dialami Bulog saat ini belum dipahami oleh semua petani.

Menurutnya, masih ada yang beranggapan bahwa Bulog sengaja tidak menyerap gabah mereka.

“Setiap hari kami melakukan serapan gabah tanpa mengenal waktu, namun kami akui tidak semua gabah produksi panen hari itu dapat terakomodasi untuk dibawa ke pabrik,” katanya.

Dia melanjutkan bahwa proses penjemputan gabah tidak berdasar pada jumlah. Bulog akan berupaya semaksimal mungkin untuk melakukan penyerapan sesuai dengan kemampuan pabrik gabah yang menjadi mitranya.

“Terhadap isu kami tidak turun ke lapangan mungkin sangat salah. Kami bisa buktikan dengan dokumentasi bahwa setiap hari kami melakukan serapan gabah. Sementara harga, kami sudah melakukan sosialisasi bahwa harga gabah itu sebesar Rp6.500/kg,” jelasnya.

Dia menambahkan bahwa pihaknya menemukan ada indikasi yang dilakukan oleh oknum-oknum tertentu yang sengaja menjual gabah kualitas terbaik ke luar daerah.

“Kemudian menyisakan gabah rusak atau calon gabah untuk ditawarkan ke Bulog dengan alasan biar bagaimana kondisi gabahnya, Bulog akan beli juga,” tutupnya.

Sebelumnya diberitakan, sejumlah petani di Kabupaten Bone menilai  Perum Bulog Bone merugikan mereka.

Kepala Desa Arasoe, Andi Amal Pasha mengungkapkan, para petani di wilayahnya menyebut bahwa pihak Bulog tidak menyerap semua gabah petani.

“Selain itu, kurangnya armada Bulog yang menjemput gabah petani kami. Jadi gabah petani yang sudah bermalam ditolak oleh Bulog dengan alasan bahwa gabahnya sudah rusak. Gabahnya rusak kan, gara-gara armada Bulog tidak kunjung datang,” kata Andi Amal kepada ENews Indonesia, Selasa (25/3/2025).

Tak hanya itu kata Andi Amal, Bulog juga tidak mau menjemput gabah petani apabila di bawah 5 Ton.

“Bulog tidak pernah turun ke lapangan melihat kondisi petani. Gabah petani dibeli tengkulak di bawah Rp 6500. Petani kami beralasan, dari pada gabah mereka rusak lebih baik dijual Rp 6.300,” ungkapnya.

“Menjerit petani di desaku ndi’ (adik. Red) gara-gara aturan seperti ini,” tandasnya. (Red)





Tinggalkan Balasan