ENEWSINDONESIA.COM, BONE ▪︎ Bandar Udara Araung Palakka di Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan rencananya akan kembali beroperasi pada bulan April 2024 mendatang setelah sementara ini harus terhenti setelah satu-satunya maskapai penerbangan di Bone yang melayani 3 rute, Bone, Makassar, Kendari, dan Balikpapan yaitu Susi Air, harus berhenti akibat masa kontrak setahun yang berakhir pada Desember 2023.
Pemda Bone menargetkan pesawat penumpang regional jarak pendek bermesin twin-turboprop yang dibangun perusahaan pesawat Prancis-Italia yakni, ATR-72 untuk beroperasi di Bandara Arung Palakka nantinya.
Dinas Perhubungan (Dishub) Bone membeberkan biaya operasional langsung untuk pesawat ATR-72 yang nantinya akan beroperasi di Bandara Bone mencapai Rp18,7 juta per jamnya.
Diketahui Dinas Perhubungan Bone telah mengajukan proposal anggaran dana hibah penerbangan ke Bagian Kesejahteraan Rakyat Provinsi Sulsel dengan nilai Rp11 miliar.
Komponen itupun mencakup biaya operasional untuk penerbangan nantinya. Dimana biaya operasional langsung ini dibagi ke dalam dua kategori yakni Biaya Operasional Langsung Tetap, dan Biaya Operasional Langsung Variabel.
“Untuk total biaya operasional langsung pesawat ini perjamnya itu mencapai Rp18.738.080,” ujar Kepala Dinas Perhubungan Bone, Andi Muh Ikbal benerapa waktu lalu.
Pesawat ATR-72 ini yang nantinya beroperasi hanya satu buah saja, dan melakukan operasional ke tiga titik penerbangan yakni Bone-Makassar, Bone-Kendari dan Bone-Balikpapan.
Sementara itu Staf Bagian Keuangan dan Program Dishub Bone Andi Faisal Fajrin merinci, untuk biaya Operasional Langsung Tetap ini seridaknya akan menelan biaya Rp4.9 juta perjamnya dan Operasional Langsung Variabel mencapai Rp13,7 juta perjam
“Jadi itu disewakan perjamnya Oprasional Langsung Tetap mencapai Rp4,9 juta dan Operasional Langsung Variabel Rp13,7 juta,” terangnya.
Jumlah ini kata dia telah mencakup biaya penyewaan pesawat, bahan bakar, gaji dan tunjangan awak dan teknisi, navigasi, hingga maintanance pesawat tersebut di darat.
Bahkan ini juga telah mengkalukulasi untuk peningkatan SDM dengan pelatihan bagi masing-masing awak yang bertugas.
“Jadi ada penyewaan, asuransi, gaji tetap awak, ada gaji tetap teknisi, pelatihan gaji awak pesawat, dan teknisi,” jelasnya.
Kemudian ada biaya pelumasan, biaya BBM, tunjangan awak pesawat dan teknisi, pemeliharaan, kebandarudaraan, hingga biaya navigasi.
Berikut Grafis Operasional Pesawat ATR-72
– Total biaya operasional langsung untuk ATR-72 mencapai Rp18,7 juta perjam.
– Operasional langsung tetap sebesar RpRp4.998.332 perjamnya mencakup
Penyewaan Pesawat Rp290.909 per jamnya. Biaya Asuransi Rp2.837.727, perjam. Selanjutnya biaya gaji tetap awak pesawat Rp1.034.300 perjam.
Biaya gaji terap teknisi mencapai Rp397.808 perjam. Pelatihan gaji awak pesawat dan teknisi mencapai Rp437.588 perjam.
– Biaya Operasional Langsung Variabel mencapai Rp13.739.748 perjam.
– Biaya pelumasan Rp163.400 perjam.
Biaya BBM 5.795.500 perjam.
– Biaya tunjangan awak pesawat dan teknisi Rp2.844.731 perjam.
– Biaya overhaul/pemeliharaan pesawat udara Rp4.217.869 perjam.
– Jasa kebandarudaraan Rp25.890 perjam.
– Biaya jasa navigasi penerbangan Rp172.025 perjam.
– Jasa pelayanan pesawat Rp509.194 perjam.
– Biaya Jasa Boga penerbangan Rp11.139 perjam. *






