Pahlawan Malam di Perlintasan Kereta Api

PEMALANG, JATENG •• Namanya Faiz, pemuda berusia sekitar tiga puluhan, warga Desa Widodaren, Kecamatan Petarukan, Pemalang, Provinsi Jawa tengah. Pria tersebut merupakan sukarelawan penjaga perlintasan rel kereta api tanpa palang pintu di desa setempat.

Saat menjelang tengah malam, saat orang mulai terlelap, Faiz memulai aktivitasnya. Dia berjalan kaki menuju perlintasan kereta api tanpa palang pintu yang membujur panjang melewati Desa Widodaren. Dirinya masih terlihat agak kurang sehat, mungkin karena masuk angin, karena tiap malam dia harus ronda mengamankan orang yang melintas di rel kereta, baik pejalan kaki atau para pengendara mobil dan sepeda motor.

Tak banyak orang tahu, Faiz hanya sukarelawan, dia bukan petugas jaga dari PT Kereta Api Indonesia (PT KAI). Faiz hanya menjalankan panggilan rasa kemanusiaannya, mendengar banyak terjadi kendaraan atau orang di tabrak kereta saat melintas di jalur kereta api yang belum diberi keamanan palang pintu.

”Sedikit imbalan dari masyarakat yang melintas hanya berupa uang recehan, nominal pecahan Rp 500, 1000  dan 2.000. Hanya lumayan buat beli kopi dan rokok, sebagai pengusir rasa ngantuk,” beber Faiz.

Sudah sekitar empat bulan dia melakukan kegiatan ini, Rasa kemanusiaannya muncul semenjak ada pejalan kaki yang tertabrak kereta tanpa palang pintu juga di Desa Sirangkang, tak jauh dari lokasi kini dia menjaga lintasan kereta.

Suka duka dia rasakan, dari dipandang sebelah mata, sampai di curigai , bahkan dituduh memalak orang yang melintas di perlintasan kereta api tanpa palang pintu tersebut. Padahal dia melakukan ini semua, karena rasa kemanusiaan untuk menyelamatkan para pengendara dan pejalan kaki dari terjadinya kecelakaan.

Faiz juga tidak bermaksud dan berharap neko – neko dengan kegiatan ini. ” Saya ngga memaksa mas,” tutur nya dalam wawancara lewat chating Whatshap kepada Enewsindonesia.com, Sabtu (26/3/22).

”Adapun suatu saat nanti saya diperkerjakan oleh pihak terkait, saya mau mas diperkerjakan jaga lintasan kereta di Widodaren,” pungkasnya.

Ternyata, untuk berguna bagi sesama, tidak mesti banyak harta benda. Tapi tenaga, sumbangsih pikiran positif nyata, lebih diharapankan masyarakat dari pada sebuah retorika tanpa karya nyata. Faiz seorang  tukang buruh bangunan, sudah mengajarkan kepada kita.





Editor: ABDUL MUHAIMIN

Tinggalkan Balasan