ENEWS BONE •• Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas) memiliki peran penting dalam memberikan pelayanan kesehatan dasar kepada lapisan masyarakat terutama yang ada di pelosok desa. Pelayanan kesehatan adalah hak dasar masyarakat.
Namun, apa jadinya bila Puskesmas tak diprioritaskan, bahkan tak dipercaya oleh masyarakat itu sendiri.
Dari beberapa hasil penelusuran ENews Indonesia di beberapa lokasi di Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan (Sulsel), Puskesmas menjadi bahan gunjingan warga.
Salah seorang warga di ujung Bone bagian barat menyebut bahwa pelayanan Puskesmas di wilayahnya kurang baik.
“Ibu saya sakit dan ada pendarahan di hidung, masa dokter di Puskesmas ngomong gini dengan nada keras waktu kami berobat di Puskesmas, ‘Kamu pakai masker, nanti penyakitmu tulari orang lain’. Kata-kata itu didengar orang lain, kami malu,” kata warga tersebut kepada ENews Indonesia, Sabtu 15 Februari 2025.
Tak sampai di situ, ketika ia meminta rujukan untuk berobat ke salah satu rumah sakit di Kota Watampone, ia mengaku tak diberikan.
“Dia tidak mau kasika rujukan, jadi saya sampaikan ke dokter tersebut, ‘Sendainya obatnya cocok di Puskesmas ini, tidak mungkin saya jauh-jauh ke kota berobat’. Hari itu langsung saya bawa ibu saya ke rumah sakit tanpa rujukan,” ucapnya.
Beda lagi kata sumber tersebut, bila dirinya berobat langsung ke rumah dokter tersebut, pelayannnya beda.
“Kalau berobatki di rumahnya (buka praktek), pelayanannya beda, bahasanya sopan. Beda bila kita ketemu di Puskesmas, sangat kasar bahasanya,” ungkapnya.
Masih di sekitar Bone bagian barat, saat istri seorang pasien sedang hamil dan akan melahirkan, kekecewaan pun muncul dengan pelayanan di Puskesmas.
“Saat itu, istri kami mengerang kesakitan, tapi perawat di puskesmas malah tidur santai. Bahkan, menyampikan ke kami sudah pembukaan (istilah kedokteran bagi pasien yang akan melahirkan) ini, pembukaan itu. Kami pun berinisiatif membawa ke rumah sakit di kota, kami khawatir dengan pelayanan di Puskesmas,” kata sumber lain kepada ENews Indonesia, Ahad (16/2/2025).
“Setelah di rumah sakit di Kota Watampone, ternyata hasil pemeriksaan dokter beda jauh dengan di Puskesmas. Untung kami rujuk cepat ke rumah sakit,” sambungnya.
Kejadian serupa juga dialami warga yang berada di Bone bagian timur.
Di daerah tersebut terdapat sebuah klinik perusahaan ternama tempat para karyawan dan pensiuanan karyawan untuk berobat.
“Di klinik ini, dokternya jarang muncul. Bila ada pasien, pegawai klinik cuma menelpon ke dokter bahwa keluhannya ini, itu. Lalu di balik telpon, dokter mendiagnosa pasien tersebut mempunyai penyakit ini,” ungkap sumner ENews Indonesia, Ahad (16/2/2025).
“Ayah kami pun mengkomsumsi obat resep dari dokter tersebut namun tak ada perubahan. Saat kami rujuk ke salah satu rumah sakit di kota, ternyata diagnosa penyakitnya beda. Ini kan, membahayakan orang tua kami,” lanjutnya.
Belum lagi, pelayanan Puskesmas di wilayah tersebut yang seringkali viral karena keluhan warga.
Dari beberapa informasi yang dihimpun, puskesmas di daerah tersebut pernah viral karena layanan dikeluhkan hingga menjadi sebab pasien meninggal dunia.
Informasi terkahir yang didapatkan, seorang mahasiswa KKN di daerah tersebut ditolak untuk berobat karena ber-KTP luar Kabupaten Bone, padahal kondisi mahasiswi tersebut sedang drop.
Keluhan-keluhan terkait pelayanan seperti ini terus bermunculan dari masyarakat Kabupaten Bone yang ada di pelosok.
Bahkan, beberapa mempertanyakan pendidikan para oknum dokter dan perawat yang melayani mereka.
Tentunya hal ini harus menjadi perhatian serius pihak pemerintah setempat agar mengevalusi dan terus memantau pelayanan kesehatannya. Jangan cuma bangunannya yang terus dipercantik, tapi Sumber Daya Manusianya juga.
Penulis: Mimienk Lee



