Oleh: Ikbal Tehuayo
Ketika tubuh manusia telah mati lalu dikuburkan, ia akan membusuk menjadi hidangan lezat cacing tanah. Daging tubuh manusia yang dilahap cacing akan berubah menjadi energi untuk menjamin keberlangsungan kehidupan cacing.
Sebagian zat lainnya dari tubuh manusia akan disedot rumput dan akar pohon yang ada di sekitarnya, lalu terbagi ke batang hingga daun. Atau barangkali ada yang tertangkap air tanah lalu hanyut ke laut dan menguap ke angkasa mengikuti siklus hidrologi.
Setelah seratus hari kematian seseorang, tak lagi kita dapatkan bagian tubuhnya yang telah terurai oleh semesta, pikiran kita pun tak mampu memprediksi dengan tepat dimana alam menyimpannya.
Kita mengandaikan ada kelompok ilmuan yang mencoba melakukan pencarian bagian tubuh manusia yang telah terurai oleh alam dan menyatukannya kembali, tentunya membutuhkan waktu hingga semesta hancur pun mereka tak akan bisa melakukannya.
Untuk menemukan dan mengumpulkan zat-zat tubuh seseorang yang telah terurai oleh alam saja adalah hal yang mustahil dilakukan, lalu bagaimana mungkin bisa kita temukan semua zat dari tubuh manusia yang perna hidup.
Kita bayangkan bagaimana sulitnya jika mencari abu zenajah yang telah ditaburkan lima tahun lalu oleh umat Hindu di sungai Gangga, andai saja abu itu ditemukan, maka ia hanya sebagai abu, tak bisa kita ubah menjadi segumpal darah, tulang dan daging.
Dari zaman Nabi Adam a.s hingga saat ini, belum ada satu manusia pun yang mampu menyusun kembali tubuh manusia yang telah terurai oleh alam, artinya ilmu pengetahuan yang dikembangkan hingga saat ini secara tersirat mengakui adanya sesuatu diluar dirinya yang tak bisa ia sampai ke sana.
Al-quran menginformasikan kepada seluruh manusia bahwa, Allah SWT kelak akan membangkitkan manusia dari kuburnya, artinya Allah mampu mengumpulkan semua zat-zat manusia yang telah mati dan telah terurai oleh alam miliaran tahun lalu, baik yang sudah tercampur air laut, menjadi batu, debu hingga yang diserap akar pohon.
Bagi Allah sangat mudah, tapi ini sesuatu yang tak bisa dijelaskan oleh pikiran manusia. Kadang kita bertanya, bagaimana Tuhan melakukannya.
Kemustahilan dijangkau oleh pikiran inilah yang membuat sebagian manusia tidak menerimanya sebagai suatu kebenaran, dan ini merupakan jalan masuk pikiran sesat untuk memotong iman dan menjauhkan kita dari kebenaran Qur’an.
Coba kita amati Alqur’an Surat Albaqarah ayat 260 yang artinya:
Dan (ingatlah) ketika Ibrahim berkata, “Ya Tuhanku, perlihatkanlah kepadaku bagaimana Engkau menghidupkan orang mati.” Allah berfirman, “Belum percayakah engkau?” Dia (Ibrahim) menjawab, “Aku percaya, tetapi agar hatiku tenang (mantap).” Dia (Allah) berfirman, “Kalau begitu ambillah empat ekor burung, lalu cincanglah olehmu kemudian letakkan di atas masing-masing bukit satu bagian, kemudian panggillah mereka, niscaya mereka datang kepadamu dengan segera.” Ketahuilah bahwa Allah Maha Perkasa, Maha Bijaksana.
Sangat jelas persoalan membangkitkan manusia yang telah mati adalah hal yang paling sulit dipahami akal manusia. Ini terlihat bahwa, sekelas Nabi Ibrahim pun masi ingin mempermantapkan imannya dengan cara memohon kepada Allah untuk menunjukan secara langsung bagaimana menghidupkan sesuatu yang telah mati.
Selain itu, Allah merekam orang-orang yang ragu atas kemampuan-Nya di dalam Quran surat al-isra ayat 49-51 sebagai berikut;
Dan mereka berkata, “Apakah bila kami telah menjadi tulang belulang dan benda-benda yang hancur, apa benar-benarkah kami akan dibangkitkan kembali sebagai makhluk yang baru?” Katakanlah: “Jadilah kamu sekalian batu atau besi, atau suatu makhluk dari makhluk yang tidak mungkin (hidup) menurut pikiranmu”. Maka mereka akan bertanya, “Siapa yang akan menghidupkan kami kembali?” Katakanlah, “Yang telah menciptakan kamu pada kali yang pertama.”
Allah mengkonfirmasikan pada kita lewat Surat Al-Baqarah ayat 2 bahwa, di dalam Quran tak ada keraguan di dalamnya, namun persoalan-persoalan yang tak terjangkau pikiran mempunyai kekuatan membatalkan keimanan.
Agar keimanan tetap terjaga meski penjelasan Qur’an tak mampu dijangkau akal. Mari kita menyedot hikmah dari kisah Nabi Musah dan Nabi Khidir. Dalam kisah itu, keduanya melakukan perjalanan dengan menaiki sebuah perahu. Namun, di tengah perjalanan Nabi Khidir melubangi perahu itu, kemudian membunuh anak muda yang tak bersalah, dan memperbaiki dinding rumah yang roboh di sebuah kota yang penduduknya tidak menjamu mereka.
semua tindakan Nabi Khidir di mata Nabi Musa tidak dapat diterima karena bertentangan dengan pikiran dan nuraninya.
Nabi Khidir pun menjelaskan berbagai pelajaran yang terjadi selama perjalanan kepada Nabi Musa. Nabi Khidir mengatakan bahwa perahu yang ia lubangi merupakan milik orang miskin, sedangkan, di depannya terdapat raja yang merampas setiap perahu, sehingga hal itu dilakukan untuk menyelamatkan perahu tersebut.
Kemudian, anak muda yang dibunuh merupakan seorang kafir. Sementara, kedua orang tuanya adalah mukmin sehingga Nabi Khidir khawatir jikalau sang anak bisa membawa orang tuanya dalam kekafiran.
Terakhir, Nabi Khidir menjelaskan kepada Nabi Musa perihal dinding rumah yang ia perbaiki. Menurutnya, rumah tersebut milik dua anak yatim dan di bawahnya tersimpan harta bagi mereka berdua.
Apa sebab Nabi Musa merasa tidak nyaman dengan perbuatan Nabi Khidir, tak lain di karenakan Nabi Musa menilai Nabi Khidir dengan ukuran-ukuran sendiri, padahal ukuran yang ia punya tidak sebesar pengetahuan Nabi Khidir.
Begitupun penjelasan Allah yang mampu menyusun kembali manusia yang telah hancur di kemudian hari, lalu kita menilai Allah dengan ukuran-ukuran kita, inilah yang membuat kita tersesat dengan pikiran sendiri.
Sebagai manusia yang terbatas dan mempunyai pikiran dan nurani, patutnya ia mengakui adanya zat di luar dirinya yang maha dahsyat, tak terbatas dan tak terjangkau dengan pikiran, yang ia jadikan tempat bergantung segala hajatnya.






