ENEWS BONE •• Film animasi 3D berbahasa Bugis pertama, berjudul “Panre Ambo dan Kawali”, resmi dirilis pada Jumat 14 Desember 2024 di Planet Cinema Bone, Jalan Dr. Wshidin Sudirohusodo, Kota Watampone, Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan (Sulsel).

Film yang merupakan inovasi dalam pelestarian budaya lokal ini adalah hasil kolaborasi antara PKBM Sipakatau dan Sumange’ Animation Studio, didukung penuh oleh Direktorat Jenderal Kebudayaan, Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi, serta LPDP melalui program Dana Indonesiana.
Berbagai kalangan masyarakat hingga pemerintah diundang dalam launching film tersebut.
Setelah menonton film, salah seorang tamu undangan Nisa menyampaikan bahwa film tersebut sarat akan edukasi budaya.
“Setelah menonton film ini, saya banyak tahu tentang bagaimana menempa Kawali (senjata khas Bugis), serata pantangan-pantangan dalam menempanya,” kata Nisa kepada Enews Indonesia yang diaminkan oleh dua temannya yakni, Andin, dan Ulfa.
Nisa berharap, dengan adanya film ini dapat menjadi motivasi pemuda di Kabupaten Bone tetap melestarikan budaya menempa besi.
“Kita tunggu film selanjutnya,” katanya.
Sementara, sutradara film tersebut, Ichsan Hatib menjelaskan, pembuatan film animasi 3D berdurasi 30 menit itu membutuhkan waktu satu tahun dengan menggunakan 45 ribu gambar.
“Alhamdulillah, suatu kesyukuran hari ini kita bisa melaksanakan launching film Panre Ambo dan Kawali. film yang mengisahkan proses pembuatan Kawali secara detail, juga menyisipkan elemen fiksi tanpa mengurangi nilai filosofi bugis serta kekayaan pengetahuan lokal yang semakin minim di minati kaum milenial,” tuturnya.
Lebih lanjut Ichsan Hatib menuturkan, di zaman sekarang, sangat susah ditemui anak muda yang ingin menempa (membuat kawali). rata-rata memilih menjadi influencer, tiktoker hingga youtubers.
“Untung masih ada satu Panre (pandai besi) termuda bernama Hendra yang merupakan cucu Panre Besi tertua di Bone bernama Ambo Upe. Saat ini bisa dikata semua pandai besi di Bone sudah berumur. siapa lagi yang ingin melestarikan budaya kalau bukan kita,” jelasnya.
“Hendra merupakan cucu dari panre ambo upe yang menjadi tokoh dalam animasi 3D pertama berbahasa Bugis,” sambungnya.
Ia memaparkan, pembuatan film ini mulai dari tahapan penelitian hingga proses produksi, sebanyak 45 ribu animasi gambar dibutuhkan dengan durasi 30 menit yang disusun satu persatu. ada 24 gambar per detiknya.
“Sebanyak 150 orang terlibat dalam project ini. Alhamdulillah, dengan jejaring yang kuat, pertemanan dan persahabatan sehingga film ini bisa terwujud,” tandas Alumni S3 ISI Yogyakarta itu. (Lee)




