“Ingat juga Andi Tenri Abeng 50 suara parpol nah, Gerindra Provinsi”.
ENEWS PEMILU •• Penyelenggara Pemilu di Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan (Sulsel) saat ini disoroti masyarakat lantaran dugaan-dugaan pelanggaran yang dilakukan oleh oknum dari lembaga-lembaga terhormat tersebut.
Selain dugaan tindak pidana yang dilakukan oleh oknum Panwascam Kecamatan Kahu, Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan (Sulsel), ketua Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kabupaten Bone juga menjadi perbincangan hangat masyarakat.
Ketua KPU Bone Yusran Tajuddin mendadak viral setelah beredarnya tangkapan layar percakapan media sosial Whatsapp yang memperlihatkan bahwa ia diduga mengarahkan anggotanya untuk memark up suara salah satu caleg DPRD Provinsi dari Partai Gerindra, Andi Tenri Abeng Salangketo.
Andi Tanri Abeng Salangketo merupakan Caleg DPRD Provinsi Sulsel terpilih dari Partai Gerindra, nomor urut 3.
Berdasarkan rekapitulasi perolehan suara KPU Bone, putri Pj Bupati Bone Andi Islamuddin itu meraih 51.288 suara.
Isi Percakapan Viral
Isi percakapan tersebut dimulai dengan panggilan Whatsapp yang tak dijawab sebanyak 3 kali.
Lalu akun WA yang bernama KPU Pak Yoesran memulai percakapan, “awee”.
Oknum yang dichat tersebut yang diduga anggota PPS itu menjawab, “Maaf pak mencatatka tadi perhitungan ulang. Nanti pagi diubah, karena masih banyak yang mau diperbaiki di Si Rekap Pak”.
Akun atas nama KPU Pak Yoesran kembali membalas, “Jadi pending sebelum finalisasi”.
Dilanjutkan, “Ingat juga Andi Tenri Abeng 50 suara parpol nah, Gerindra Provinsi”.
Lalu dibalas oknum yang diduga PPS tersebut dengan emot smile dan mohon maaf.
Lalu kembali dibalas akun KPU Pak Yoesran, “Gassmi waseng nah”.
Selain percakapan Whatsapp tersebut, ada juga rekaman video yang diduga Ketua KPU Bone Yusran Tajuddin mengarahkan oknum PPS melalui sambungan telpon.
Hingga saat ini belum diketahui pasti, siapa yang menyebar potongan-potongan percakapan tersebut dan siapa oknum PPS yang diduga diarahkan oleh Ketua KPU Bone.
Bantahan Ketua KPU Bone Yusran Tajuddin
Ketua KPU Bone, Yusran Tajuddin dengan tegas membantah hal tersebut.
Ia mengatakan tahapan pilkada sudah mulai jalan, banyak pihak yang akan menjatuhkan.
“Bukan saya, namanya juga maumi pilkada, pasti banyaklah yang mau menjatuhkan” ujarnya kepada sejumlah wartawan, Selasa (28/5/2024) kemarin.
“Kalaupun nama saya yang dicatut silakan ke Bawaslu konfirmasi betulkah itu atau tidak, karena kan, itu rananya Bawaslu. Tapi jelas itu bukan perintah saya dan bukan saya,” sebutnya.
Pernyataan Bawaslu Bone
Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) Bone akan melakukan penelusuran terkait dugaan pelanggaran pemilu yang melibatkan ketua KPU Bone.
“Kami akan segera melakukan penelusuran terkait dengan chat yang beredar. Jadi kita tunggu saja hasil penelusuran,” kata Ketua Bawaslu Bone, Alwi, Selasa (29/5/2024).
Opini Penulis
Jika isu miring yang menerpa Ketua KPU Bone itu benar dan terbukti, demokrasi di Kabupaten Bone betul-betul sakit. Pertanyaannya, bila ia memang dibajak, apakah ada laporan polisi ataupun pemberitahuan ke masyarakat bahwa nomornya sedang dibajak? Sementara diketahui di adalah Ketua Penyelenggara Pemilu Bone.
Lalu siapa yang menyebarkan hal tersebut hingga membuat heboh warga Bone. Pertanyaannya, kenapa baru sekarang pada setelah selesainya perekrutan anggota PPK? Kenapa tidak dikeluarkan pasca penghitungan/rekaputulasi suara caleg? Apa orientasi si penyebar?
Terkait oknum Panwascam Kahu, penulis sempat mendapatkan tekanan dari oknum anggota Bawaslu sekira Pukul 23.00 Wita, Selasa 28 Mei 2024 tadi malam.
“F (terduga pelaku. Red) itu om saya, sementara korban keponakan saya. Jangan sembarang tulis berita lo,” kata oknum tersebut dengan nada menekan kepada Enewsindonesia.com.
Terkait hal ini, Bawaslu harus menggali informasi dari seluruh PKD. Jangan hanya bertanya ke PKD tertentu saja, dikhawatirkan beberapa PKD sudah dibungkam. Diduga korban sudah mendapat tekanan oleh pihak tertentu dalam kasus ini.
Bawaslu dan polisi juga harusnya menanyai Supriadi sebagai ketua Panwaslu Kecamatan Kahu saat dugaan pelecehan seksual itu terjadi. Apakah ada korban yang pernah melapor kepadanya atau tidak ada saat ia menjadi ketua?
Penulis: Abdul Muhaimin






