Indonesia Swasembada, Kementan Programkan Impor Sapi Perah dan Potong

Foto: Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman. (Dok. Enews)

ENEWS MAKASSAR •• Kementerian Pertanian (Kementan) mencanangkan program impor indukan sapi perah dan sapi potong dalam rangka melancarkan program makan bergizi gratis yang diusung Presiden Terpilih Prabowo Subianto.

Selain itu, program tersebut juga sebagai langkah awal untuk Indonesia menuju swasembada susu dan daging sapi dalam beberapa tahun ke depan.



Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman menjelaskan, program impor sapi perah dan sapi potong akan melibatkan pihak swasta. Tujuannya yaitu swasembada.

“Jadi strateginya ke depan adalah, pengusaha-pengusaha anak bangsa, pengusaha nasional, yang ingin mengimpor sapi yang dimaksud, maka kami akan memberikan kebijakan khusus untuk memudahkan itu,” jelas Amran saat ditemui di salah satu warkop di kampung halamannya Kabupaten Bone, Sabtu 31 Agustus 2024.

Kenapa program ini harus berjalan? Karena Indonesia harus berdaulat pangan.

“Kita ingin berdaulat pangan, kita ingin Indonesia menjadi lumbung pangan dunia. Program-program seperti inilah yang menjadi indikator presiden kita Joko Widodo mendapatkan penghargaan baru-baru ini yaitu Agricola Medal dari The Food and Agriculture Organization of the United Nations (FAO),” paparnya.

Hal senada juga disampaikan Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (Dirjen PKH) Kementan Agung Suganda mengatakan, pihaknya telah menyusun strategi percepatan, peta jalan hingga melakukan latihan demi kelancaran program makan bergizi gratis.

Namun katanya, untuk bisa mencapai kesuksesan program tersebut Kementan tidak bisa berjalan sendiri, Kementan membutuhkan peran pelaku usaha sebagai investor.

Untuk memenuhi kebutuhan susu dalam program makan bergizi gratis periode tahun 2025-2029, sekaligus juga agar Indonesia swasembada, maka diperlukan 1 juta ekor sapi perah dan 1 juta ekor sapi potong selama 5 tahun ke depan.

Berdasarkan perhitungannya, dengan mengimpor sapi perah sebanyak 1 juta ekor, maka di tahun 2029 mendatang produksi susu dalam negeri sudah bisa mencapai 8,17 juta ton atau 96% dari kebutuhan susu 8,5 juta ton per tahun.

Sementara itu, eksisting sapi perah di tahun 2024 ini, produksi susu dalam negeri masih berada di level 1 juta ton per tahun atau hanya memenuhi 21% dari kebutuhan, 79% atau 3,7 juta ton sisanya masih impor.

Sementara untuk strategi penyediaan daging sapi, lanjut Agung, dibutuhkan impor sebanyak 1 juta ekor sapi potong pada periode 2024-2029. Di mana dengan adanya impor 1 juta ekor tersebut, berdasarkan perhitungannya, produksi daging sapi di tahun 2029 sebanyak 0,62 juta ton atau 70% dari kebutuhan 0,88 juta ton, dan 30% atau 0,26 juta ton sisanya impor.

Adapun eksisting sapi potong pada tahun 2024 ini, produksi lokal sebanyak 0,37 juta ton atau 48% dari kebutuhan, dan yang didatangkan dari impor sebanyak 0,4 juta ton atau 52% dari kebutuhan per tahun.

“Kalau untuk daging sapi kita tidak bisa muluk-muluk juga, 1 juta (selama) 5 tahun itu sudah luar biasa memasukkan indukan sapi potong,” ujarnya.

Ternyata kata Agung, untuk sapi potong ini Indonesia baru bisa menurunkan impor kita dari tahun 2024 52% menjadi 30% saja di tahun 2029.

“Jadi kalau kita bicara memasukkan 1 juta selama 5 tahun, 2025 sampai 2029, di 2029 kalau ini bisa berhasil, impor kita menjadi turun dan mungkin hanya sekitar 30%. Kita baru bisa mencapai swasembada di tahun 2034. Itu hitung-hitungan kami,” tandasnya.