Aksi 30 Tahun AMARAH di UMI Ricuh, 108 Mahasiswa Diamankan

Ketgam: Sejumlah mahasiswa UMI diamankan aparat usai aksi peringatan 30 tahun tragedi AMARAH berujung ricuh di Jalan Urip Sumoharjo, Makassar, Jumat (24/4/2026) malam. (Angki)

ENEWS, MAKASSAR ••》Aksi peringatan 30 tahun tragedi April Makassar Berdarah (AMARAH) di depan Kampus Universitas Muslim Indonesia (UMI), Jalan Urip Sumoharjo, berujung ricuh, Jumat (24/4/2026) malam.

Sedikitnya 108 mahasiswa diamankan aparat setelah bentrokan dengan pengemudi ojek online (ojol) tak terhindarkan.



Aksi yang diikuti mahasiswa lintas fakultas dan organisasi kedaerahan itu awalnya berlangsung sebagai mimbar bebas mengenang tragedi 1996.

Namun situasi memanas ketika massa bertahan hingga malam dan memblokade jalan dua arah memicu kemacetan panjang di salah satu jalur utama Kota Makassar.

Sekitar pukul 19.30 WITA, ketegangan meningkat saat sejumlah pengemudi ojol yang terdampak kemacetan berupaya membubarkan massa.

Adu mulut berubah menjadi aksi saling lempar antara kedua kubu. Bentrokan pun tak terelakkan di depan kampus.

Polisi yang tiba di lokasi langsung melakukan pengamanan dan membubarkan massa. Ratusan mahasiswa kemudian dibawa ke Mapolrestabes Makassar.

Kapolrestabes Makassar Kombes Pol Arya Perdana membenarkan jumlah mahasiswa yang diamankan. “108 orang,” ujarnya singkat kepada wartawan, Sabtu (25/4/2026).

Namun, pihak kepolisian menegaskan tidak ada penahanan. Kasi Humas Polrestabes Makassar Kompol Wahiduddin menyebut para mahasiswa hanya didata dan dimintai keterangan sebelum dipulangkan.

“Tidak ada yang ditahan, hanya pendataan,” katanya.

Di sisi lain, bentrokan tersebut meninggalkan jejak kerusakan. Fasilitas kampus UMI dilaporkan terdampak, termasuk gerbang pintu keluar yang rusak.

Aksi ini sendiri digelar untuk menuntut kejelasan atas tragedi AMARAH 1996 yang menewaskan mahasiswa dan hingga kini dinilai belum tuntas secara hukum.

Selain itu, massa juga mengangkat isu yang lebih aktual, mulai dari dugaan pembungkaman demokrasi hingga intimidasi terhadap aktivis.

Jenderal Lapangan Aliansi se-Organda UMI, Alif Nugraha, menyebut aksi tersebut sebagai bentuk akumulasi kekecewaan.

Ia menyinggung adanya dugaan teror terhadap aktivis mahasiswa di Makassar.

“Ini bukan sekadar mengenang. Ada keresahan nyata hari ini soal demokrasi yang dibungkam dan kawan-kawan aktivis yang mendapat tekanan,” tegasnya.

Peristiwa ini menyoroti dua persoalan sekaligus yakni memori panjang pelanggaran HAM yang belum tuntas, serta rapuhnya ruang ekspresi di tengah tekanan sosial di lapangan.

Ketika aksi jalanan berbenturan dengan kepentingan publik lain, eskalasi konflik menjadi sulit dihindari dan berulang.

(Angki Perdana)





Tinggalkan Balasan