ENEWS, BONE ••》Pertunjukan teater “Suara-suara dari Balustrade” akan hadir dalam rangkaian Festival Budaya Gau Maraja 2026 bertajuk “Simfoni Lumbung: Merayakan Kebudayaan dan Pangan”.
Pertunjukan yang digagas dan disutradarai Tahir Talas tersebut dijadwalkan berlangsung pada Senin, 28 September 2026, pukul 19.30 WITA hingga selesai, di Penjara Lama Kota Watampone. Pertunjukan terbuka untuk masyarakat dengan tiket masuk gratis.
Suara-suara dari Balustrade mengangkat tema pangan, kebudayaan, ingatan leluhur, serta hubungan masyarakat Bugis dengan lingkungan. Gagasan pertunjukan bertumpu pada siklus kehidupan agraris, yakni menanam, merawat, dan memanen.
Sutradara Suara-suara dari Balustrade, Tahir Talas, mengatakan pertunjukan tersebut berangkat dari upaya membaca kembali hubungan antara manusia, pangan, ruang hidup, dan ingatan leluhur.
“Kami mencoba melihat pangan bukan hanya sebagai sesuatu yang kita makan, tetapi sebagai bagian dari perjalanan kebudayaan. Ada tanah, ada kerja, ada pengetahuan, ada tradisi, dan ada ingatan yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya,” kata Tahir Talas, Sabtu (19/9).
Menurutnya, gagasan tersebut kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa teater melalui tubuh aktor, suara, gerak, benda, serta ruang pertunjukan.
“Kami ingin suara-suara itu tidak hanya berhenti sebagai teks atau ucapan. Ia harus hadir melalui tubuh, gerak, bunyi dan ruang. Karena itu, Penjara Lama kami pilih bukan sekadar sebagai tempat pementasan, tetapi sebagai bagian dari cerita,” ujarnya.
Tahir menjelaskan, keberadaan Penjara Lama Kota Watampone memberikan lapisan makna tersendiri bagi pertunjukan. Dinding, lorong, pintu, dan balustrade bangunan tersebut diperlakukan sebagai bagian dari ruang dramaturgi yang berhadapan langsung dengan para pemain.
“Balustrade bagi kami adalah sebuah ambang. Ia menjadi simbol batas antara masa lalu dan masa kini, antara ingatan dan pelupaan, juga antara sesuatu yang diwariskan dengan sesuatu yang sedang kita pertanyakan kembali,” jelasnya.
Dalam pertunjukan tersebut, lumbung juga tidak hanya dimaknai sebagai tempat menyimpan hasil panen. Lumbung diposisikan sebagai simbol ketahanan, kerja bersama, keberlanjutan, serta pengetahuan yang harus dijaga dan diteruskan.
“Ketika kita berbicara tentang lumbung, sebenarnya kita sedang berbicara tentang bagaimana sebuah masyarakat bertahan. Ada kerja kolektif, ada pembagian, ada tanggung jawab, dan ada pengetahuan yang harus diwariskan. Itu yang ingin kami hadirkan melalui pertunjukan ini,” terang Tahir.
Selain kehidupan agraris, pertunjukan juga mempertemukan pengalaman masyarakat Bugis dengan ruang maritim. Tanah dan laut dipandang sebagai dua ruang kehidupan yang sama-sama mengajarkan manusia membaca tanda-tanda alam.
“Orang yang bekerja di tanah membaca musim, air, benih dan perubahan cuaca. Orang yang berada di laut membaca angin, arus, gelombang dan arah. Keduanya sama-sama mengajarkan manusia untuk membaca alam sebelum mengambil keputusan,” tuturnya.
Gagasan tersebut juga berkaitan dengan pappaseng, yakni pesan dan petuah leluhur Bugis yang menjadi salah satu lapisan penting dalam pertunjukan.
Tahir mengatakan pappaseng tidak hanya dipandang sebagai warisan kata-kata, tetapi sebagai pengetahuan yang perlu diterjemahkan ke dalam tindakan dan konteks kehidupan masa kini.
“Yang kami coba lakukan bukan sekadar mengulang masa lalu. Kami ingin berdialog dengan masa lalu. Apa yang masih relevan, apa yang mulai hilang, dan apa yang perlu kita teruskan kepada generasi berikutnya. Di situlah teater menjadi ruang untuk bertanya,” katanya.
Ia berharap pertunjukan tersebut dapat membuka ruang perjumpaan antara masyarakat, kebudayaan, sejarah, dan seni pertunjukan.
“Harapannya sederhana, penonton tidak hanya datang melihat pertunjukan, tetapi pulang membawa pertanyaan. Tentang pangan, tentang kebudayaan, tentang leluhur, dan tentang apa yang akan kita wariskan kepada generasi setelah kita,” ujar Tahir.
Pertunjukan “Suara-suara dari Balustrade” diproduksi oleh Mario Centre dan berkolaborasi dengan Bali Sumange, Oryza, Ninuninu, Talas, serta sejumlah komunitas dan mitra kolaborator.
Festival Budaya Gau Maraja 2026 sendiri mengangkat tema “Simfoni Lumbung: Merayakan Kebudayaan dan Pangan” dan menjadi ruang pertemuan antara tradisi, kebudayaan, serta kreativitas seni kontemporer.
Data Pertunjukan
- Pertunjukan: Suara-suara dari Balustrade
- Ide cerita & sutradara: Tahir Talas
- Rangkaian: Festival Budaya Gau Maraja 2026 – “Simfoni Lumbung: Merayakan Kebudayaan dan Pangan”
- Lokasi: Penjara Lama Kota Watampone
- Tanggal: Senin, 28 September 2026
- Waktu: 19.30 WITA–selesai
- HTM: Gratis
- Produser pelaksana: Mario Centre
- Kolaborator: Bali Sumange, Oryza, Ninuninu, Talas dan komunitas/mitra kolaborator
- Media partner: ENEWS Indonesia






