Wajo  

Sakkoli, Jejak Sejarah Wajo yang Nyaris Hilang dari Ingatan

Logo IKWASA berdampingan dengan tampilan Desa Sakkoli, Kecamatan Sajoanging, Kabupaten Wajo, yang menyimpan jejak sejarah dan kearifan lokal.

ENEWS, WAJO ••》Sakkoli bukan sekadar nama tempat. Ia lahir dari dua kata: sakke’ (pulih) dan oli (kulit) yang merupakan penanda sebuah kisah tua tentang kesembuhan, pengasingan, dan awal mula peradaban Wajo. Kini, jejak itu mulai memudar.

Di titik inilah legenda We Tadampali berakar. Putri Kerajaan Luwu itu dikisahkan diasingkan karena penyakit kulit. Dalam pelariannya, ia terdampar di wilayah gersang hingga jatuh pingsan.



Seekor kerbau belang kemudian menjilati tubuhnya dan penyakit itu pun hilang. Sakkoli menjadi simbol “kulit yang pulih”, sekaligus saksi cerita yang diwariskan turun-temurun.

Kisah tidak berhenti di sana. We Tadampali disebut menikah dengan seorang pangeran dari Bone, melahirkan garis keturunan yang kelak menjadi bagian dari raja-raja Wajo. Artinya, Sakkoli berdiri bukan hanya sebagai lokasi, tetapi simpul awal narasi lahirnya kekuasaan di tanah Wajo.

Namun, sejarah itu kini seperti hanya tinggal sebutan. Nama Sakkoli masih ada, tapi maknanya kian kabur.

Di tengah arus zaman, cerita yang dulu hidup di ruang-ruang tutur perlahan tenggelam.

Kondisi ini mendorong lahirnya IKWASA (Ikatan Keluarga Wanua Arung Sakkoli), forum keluarga yang digagas almarhum Prof. Andi Mappatoba Sila.

Organisasi ini menjadi penjaga ingatan—mengumpulkan serpihan sejarah, merawat nilai, dan mencoba menghidupkan kembali identitas yang nyaris terhapus.

Sayangnya, peran IKWASA belum banyak terdengar. Padahal, mereka menyimpan akses langsung ke akar sejarah Sakkoli. Di sinilah pemerintah daerah diuji: apakah hanya menjadikan sejarah sebagai ornamen seremonial, atau benar-benar merangkulnya sebagai fondasi kebudayaan.

Pemkab Wajo didorong membuka ruang tudang sipulung—duduk bersama—melibatkan IKWASA dan para pemangku adat. Tanpa langkah konkret, Sakkoli akan tinggal cerita samar: disebut, tapi tak lagi dipahami.

Jika dibiarkan, Wajo berisiko kehilangan bukan hanya kisah, tetapi identitasnya sendiri. (ANDI IKBAL)





Tinggalkan Balasan