ENEWS, MAKASSAR •• Pimpinan Unit Kerja (PUK) Tenaga Kerja Bagasi Pelabuhan Utama Makassar yang bernaung di bawah PSBM-KPBI (Persaudaraan Serikat Buruh Maritim – Konfederasi Persatuan Buruh Indonesia) menggelar Konferensi I pada Rabu (3/12/2025) di Kantor Sekretariat KPBI Sulsel, Jl. A.P. Pettarani, Kompleks IDI, Makassar.
Konferensi perdana ini diikuti buruh pelabuhan dan pengurus serikat untuk melakukan konsolidasi organisasi, membahas dinamika lapangan, serta menyusun struktur kepengurusan baru.
Para peserta menyampaikan sejumlah masukan terkait pola kerja, pembagian tugas, dan isu kesejahteraan buruh bagasi.
Pengurus KPBI Makassar, Hendrik, menegaskan pentingnya konferensi tersebut sebagai langkah awal memperkuat organisasi buruh pelabuhan.
“Konferensi ini bukan hanya soal pemilihan struktur, tetapi momentum mengembalikan marwah organisasi. Buruh harus bersatu dan tidak boleh dipecah oleh kepentingan luar. PUK Tenaga Kerja Bagasi harus menjadi pelindung bagi seluruh anggotanya,” ujar Hendrik.
Ia juga menyatakan KPBI akan tetap mengawal persoalan buruh bagasi, termasuk dinamika yang terjadi di Pelabuhan Utama Makassar dalam beberapa waktu terakhir.
Sementara itu, Dewan Pembina Buruh Pelabuhan, Usman, menyambut positif bergabungnya tenaga kerja bagasi ke dalam KPBI. Menurutnya, langkah tersebut menjadi penguatan penting bagi buruh dalam menghadapi kerumitan persoalan di sektor pelabuhan.
“Ini keputusan besar untuk memperkuat perjuangan kolektif. Buruh tidak bisa bergerak sendiri-sendiri. Serikat seperti KPBI memberi ruang demokratis dan perlindungan nyata bagi pekerja,” kata Usman.
Ia turut menyinggung kondisi buruh di Pelabuhan Soekarno Hatta Makassar yang masih menghadapi konflik internal dan kebijakan yang tumpang tindih.
Menurutnya, situasi itu harus menjadi perhatian agar buruh memiliki organisasi yang mampu mengadvokasi dan memastikan tidak ada pihak dirugikan.
Konferensi I PUK Tenaga Kerja Bagasi diharapkan menghasilkan kepengurusan yang solid, memiliki kemampuan advokasi lebih kuat, serta mampu menjadi mitra kritis dalam pengawasan kebijakan pelabuhan. Hendrik menutup konferensi dengan ajakan menjaga solidaritas buruh.
“Kita kuat karena kita bersatu. Tidak ada kekuatan lebih besar dari solidaritas buruh. Pelabuhan ini tidak berdiri tanpa kerja keras kalian, dan organisasi ini akan terus berdiri untuk kalian,” ujarnya.
Jurnalis: Angki Perdana






