Pilbup Bone 2024, Pertarungan Harga Diri

Ilustrasi. (Ist)

ENEWS BONE •• Tensi politik mulai meningkat menjelang Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Kabupaten Bone yang rencananya akam digelar pada 27 November 2024 mendatang.

Kampanye hitam (Black Campaign) mulai bermunculan. Bahkan ada yang menyebut massa bayaran pada deklarasi Pilbup. Namun beberapa sumber menampik kampanye hitam itu.



“Iyye ba om, itumi saya bilang, kalau ada keluhkan soal bayaran (saat deklarasi) maka itu bukan massa dari kami, meskipun ngaku-ngaku dari tim,” ungkap sumber kepada Enews Indonesia, Ahad 1 September 2024.

Berbagai isu tentang Pemilihan Bupati (Pilbup) dibahas dimana-mana. Mulai sudut-sudut kota hingga sudut-sudut kampung di pelosok desa.

Uang, menjadi pembahasan terpenting dalam cerita-cerita masyarakat Bone.

“Mulle mewai doi’e (Bisakah kamu melawan kekuatan uang. Red)?” Kata salah seorang masyarakat yang ditemui penulis beberapa waktu lalu, Sabtu 24 Agustus 2024.

Bahkan, sebagian masyarakat tak lagi melihat dari segi sumber daya manusia (SDM) dari yang mereka dukung, yang penting ada uang.

Hal itu yang membuat pelaku politik uang ini semena-mena memainkan perannya.

Beberapa masyarakat beranggapan bahwa pertarungan Pilbup kali ini merupakan pertarungan uang. Bahkan, ada yang berasumsi bahwa harga dirinya ada pada uangnya.

Namun, tak sedikit yang menampik hal itu. Bagi mereka yang menghargai adat budaya kabupaten yang dikenal dengan Kota Beradat itu sangat kesal bila harga diri dinilai dengan uang.

Siri ini ndi’ (ini merupakan sebuah Siri’ adik. Red). Budaya kita harus diperjuangkan, yang tergerus semata-mata karena uang. Jangan nilai harga diri dengan uang!” Kata seorang budayawan yang ditemui penulis, Kamis 29 Agustus 2024.

“Masyarakat’e ditimpu bawang doi (masyarakat terus disuap uang. Red) tanpa paham apa yang terjadi, intinya ngikut saja. Mereka beranggapan Mappadeceng Kampong (memperbaiki daerah) dan tidak sadar harga diri dan budayanya diinjak-injak,” tegas seorang tokoh pemuda Bone kepada penulis, Sabtu 31 Agustus 2024.

Walaupun pada kenyataannya, sekelompok masyarakat bahkan sampai di pelosok tak lagi memikirkan harga dirinya karena uang. Mereka berprinsip bahwa di atas harga diri adalah uang.

“Yang penting engka doina ndi’ (yang penting ada uangnya adik. Red),” kata seorang petani di desa yang ditemui penulis, Jumat 30 Agustus 2024.

Salah seorang pengamat di salah satu warung kopi (warkop) di Kota Bone mengaku pernah melakukan survei terkait politik uang ini.

“Dari hasil survei saya dik, terkai pemilihan bupati, 30 persen itu yang politik uang. Alhamdulillah, masih banyak warga Bone yang menghargai budayanya, menghargai nilai-nilai siri’nya. Paling berpengaruh itu pemilih melenial, karena sekarang, anak yang mempengaruhi orang tuanya dalam memilih. Bukan orang tuanya yang mempengaruhi anaknya,” jelas pengamat tersebut kepada penulis, Jumat 30 Agustus 2024.

Jadi, pertarungan Pilbup kali ini menurut asumsi penulis adalah pertarungan harga diri melawan politik uang.

Mampukah masyarakat Bone yang berbudaya ini membuktikan harga dirinya lebih tinggi dari uang?





Tinggalkan Balasan