ENEWSINDONESIA.COM, BONE – Permasalahan remaja sangatlah kompleks, dan perlu perhatian serius semua elemen terkait untuk mempersiapkan aset bangsa dalam hal sumber daya manusia kedepan.
Hal ini menjadi pembahasan utama dalam Peresmian Program Penguatan Remaja Perempuan Terintegrasi di Kabupaten Bone, di Novena Hotel, Jl Jend Ahmad Yani Kelurahan Macanang Kecamatan Tanete Riattang Barat, Rabu (14/6/2023).
Chief Education Unicef, Kathryne Bennet dalam sambutan pembuka berbahasa Inggris dan diterjemahkan, memaparkan berdasarkan Susenas 2022, angka perkawinan anak di Provinsi Sulawesi Selatan meningkat 9,33 persen dibanding angka nasional yang turun 8, 06 persen.
“Banyak anak perempuan yang menjadi korban kekerasan. Dari 661 kasus kekerasan dibawah usia 18 tahun yang dilaporkan Provinsi Sulsel, dan 456 kasus (67%) adalah korban remaja perempuan, sedangkan laki-laki 229 (33%), dengan kata lain mencapai dua pertiga dari total kasus, ” bebernya.
Sementara pihak Bappelitbangda Sulsel, Ukrima, ST, MM, membeberkan, selain angka kekerasan, dan perkawinan anak, angka anak putus sekolah juga sangat tinggi.
“Jumlah anak tidak sekolah masih sangat tinggi, dan 44.900 anak beresiko putus sekolah. Mereka beresiko putus sekolah ini yang ditangani melalui program PASTI BERAKSI, ” tegasnya.
Sekretaris Daerah Kabupaten Bone, Drs H Andi Islamuddin, MH yang meresmikan program ditandai dengan pemukulan gong, dalam sambutannya mengungkapkan, kekerasan yang dialami remaja perempuan menjadi isu global adalah perkawinan usia anak.
“Kemiskinan, adat istiadat, pendidikan rendah orangtua, serta pergaulan bebas akibat pengaruh media sosial membangun kesadaran seksualitas yang salah terhadap remaja, ” paparnya.
Pejabat yang fashionable ini pun berharap program yang diresmikannya itu bisa menyusun dan menerapkan strategi komprehensif mengatasi segala tantangan merencanakan pembangunan pemberdayaan.
Jurnalis: Rosdiana






