Siti Marwah, Hidupi Anaknya dengan Mengumpul Batu Kerikil

Foto: Siti Marwah dan anaknya sedang mengumpulkan batu kerikil. (Dok. Ranto)

ENEWS MOROTAI •• Siti Marwah harus banting tulang menghidupi dua anaknya menjadi pengumpul batu kerikil dua tahun terakhir semenjak suaminya meninggal dunia beberapa tahun lalu. Terkadang ia juga dibantu kedua anaknya.

Siti Marwah merupakan warga Desa Juanga, Kecamatan Morotai Selatan, Kabupaten Pulau Morotai, Provinsi Maluku Utara. Dirinya juga menggeluti pekerjaannya di daerah tersebut.



“Saya bekerja mengumpulkan batu ini sudah kurang lebih dua tahun lamanya, suami saya sudah meninggal jadi saya harus cari uang untuk sekolahkan dua anak saya yang masih sekolah,” ungkapnya saat ditemui Enewsindonesia.com di tempat ia dan anak-anaknya mengumpul batu, Senin (6/2/2023) sore.

Siti Marwah menjelaskan, sebelum mengumpulkan batu kerikil tersebut untuk dijual, dia menunggu kapal tongkang pemuat material batu kerikil atau yang dikenal warga sekitar dengan kapal Landeng bersandar di Desa Juanga.

“Kalau kapal Landeng belum masuk saya dan anak-anak saya mengumpul batu di pinggir jalan untuk dijual ke warga yang akan membangun rumah atau ke lokasi- lokasi proyek lainnya,” terangnya.

Biasanya, Siti dan anaknya mengumpulkan batu kerikil mencapai 20 karung semen per hari bila ada kapal Landeng yang sandar. Namun bila tak ada kapal Landeng maka dia hanya bisa mengumpulkan 5-6 karung dalam satu harinya.

“Itupun kalau kapal Landeng masuk. Kalau kapal Landeng tidak masuk itu Paling bayak 5-6 per hari,” imbuhnya.

Lebih jauh Siti mengatakan, biasanya ia menjual batu per karung semen harganya Rp17 ribu.

“Kalau ada yang ambil banyak saya jual 17 ribu per karung semen,” ungkapnya sambil mengisi batu dalam karung.

Bila mujur, Siti bisa mendapatkan penghasilan kurang lebih 300 ribu perhari, tapi bila tak ada kapal Landeng, Siti hanya mendapatkan 85 ribu perharinya bila batu tersebut laku terjual.

Siti menyampaikan, dirinya bekerja demi kelanjutan pendidikan kedua anaknya. Anak pertama Siti seorang laki-laki duduk di bangku kelas 2 SMA dan adiknya seorang perempuan duduk di kelas 2 SMP.

“Dua anak saya yang masih sekolah satu perempuan dan satunya laki-laki setiap kedua anak saya pergi sekolah saya harus memberikan uang jajan satu hari 25 ribu rupiah karena kedua anak saya pergi ke sekolah dan pulang harus mengunakan Bentor,” jelasnya.

“Kadang juga kedua anak saya tidak pergi ke sekolah karena tidak punya uang untuk memberikan jajan,” pungkasnya.

Jurnalis: Ranto DB

Editor: Abdul Muhaimin





Tinggalkan Balasan