Pikiran Murahan

Ikbal Tehuayo

Oleh: Ikbal Tehuayo

Tidak apa pakaian kita murahan, tapi jangan pikiran kita. Apa sih pikiran murahan
itu?



Pikiran murahan adalah pikiran instan, kerja ons makan kilo, pikirannya itu-itu
saja. Penyakit pikiran murahan ini mulai menginfeksi generasi kita, misalnya pikiran slot alias iming-iming kaya lewat jalan pintas, tak sedikit generasi muda kita mengorbankan waktu malamnya demi mengharapkan rupiah dari jalan pintas alias putaran game slot.

Di panggung politik, pikiran murahan juga masuk dan menularkan virusnya ke dalam pikiran-pikiran politisi kita, terlihat jelas belakangan ini tak sedikit caleg-caleg tuna pustaka bermental daun kering ( sulit diikat mudah dibakar ) bermunculan di layar
televisi.

Caleg tuna pustaka adalah produk pikiran murahan dari partai yang mengusungnya, lalu demokrasi dijadikan sebagai argumen untuk membela diri, “inikan negara demokrasi, setiap orang berhak untuk bertarung di panggung politik”, begitu kira-kira
kalimat yang akan kita dengar bila kita bertanya pada mereka, kenapa anda
mencalonkan figur seperti itu?

Di dunia kampus, tak sedikit mahasiswa dan dosennya juga mempraktekan penyakit ini, jual beli ijasah dan nilai sering terjadi. Kampus yang dinilai sebagai tempat percakapan intelektual, kini berubah menjadi lahan perdagangan antara dosen dan
mahasiswa.

Dalam arus informasi, kita dihujani saban hari dengan ragam berita palsu alias hoax, ditambah dengan pembaca yang kecepatan like dan sharenya melampaui kecepatan otaknya berpikir, akan berdampak pada laju perkembangan hoax di tanah air.

Tentu ini sangat berbahaya. Ini tak lain efek dari virus pikiran murahan sudah menyerang sistem kerja otak kita.

Selain sistem kerja otak yang diserang, pikiran murahan ini menyebar juga dalam tubuh demokrasi, hingga demokrasi kita terus bergerak menuju titik terendah.

Yang dirindui dari demokrasi adalah kompetisi, partisipasi dan kebebasan politik, namun semuanya telah tercemar oleh limbah pikiran murahan.

Partisipasi publik banyak terlihat hanya menanti serangan fajar untuk menentukan pilihan, sementara kompetisi tak lagi dalam hal mempertengkarkan pengetahuan untuk melihat permasalahan bangsa, ia cenderung ke arah mencari aib untuk menjatuhkan lawan politik.

Sementara kebebasan politik kini dikendalikan oleh kekuasaan, dengan menakut-nakuti pegawai untuk dipindah tugaskan ke daerah-daerah terpencil yang jauh, akses transportasi dan komunikasi pun tak memadai.

Penyakit terkutuk ini paling dibenci oleh pendiri bangsa kita, itulah kenapa mereka abadikan harapan besarnya dalam UUD 1945 yakni mencerdasakan kehidupan bangsa.

Mereka takut generasi ini berpikir dangkal alias copy paste, tak mampu
berpikir mandiri, akibatnya tak bisa berdiri di kaki sendiri.

Di sosial media, tak sedikit komen sana komen sini yang tak berbau intelektual
berhamburan, argumen-argumen recehan demi menanggapi isu-isu palsu yang sengaja diciptakan melayang-layang di ruang maya.

Tampak dari percakapan di sosial
media hanyala basa-basi tanpa solusi pasti.

Coba bayangkan, ketika suara kita dibeli oleh politisi saat pemiliu, maka saat yang
sama, pembeli dan dibeli sama-sama punya pikiran murahan, ini sudah keterlaluan, kenapa? Karena di posisi seperti ini politisi dan rakyat sebenarnya sama saja.

Apalagi di musim politik, terlihat jelas adanya jatah-jatah sudah diamankan. Dengan “jatah” anda tidak perlu pintar untuk menjadi kepala dinas, tak perlu otak yang berisi untuk penjadi PNS, tak perlu memenuhi sarat untuk bisa menjadi anggota polri dan
TNI, asalkan ada “jatah” posisi anda sudah aman.

Andai leluhur pendiri bangsa ini dapat dibangkitakan dari kematiannya, maka mereka akan melihat bangsa ini dengan tatapan peneyesalan, sebab mereka hanya mendapati sedikit orang dari bangsa ini yang benar-benar punya pikiran yang dapat
diandalkan.