ENEWS BONE •• Untuk meningkatkan volume penampungan air dengan skala yang lebih masif, Pemerintah Kabupaten Bone mengajukan Detail Engeneering Design (DED) atau Rancang Bangun Rinci untuk pembangunan Bendung Sanrego di Kecamatan Kahu.
“Anggarannya itu kalau berdasarkan DED itu memakan lebih dari Rp100 miliar,” sebut Kepala Dinas Sumber Daya Air (SDA) Kabupaten Bone, Khalil Sihab, Jumat (2/5/2025).
Khalil menyampaikan, pengajuan ini telah dilakukan pihaknya pada 2024 lalu, sedangkan pengerjaannya diharapankan bisa diajukan pusat di 2025 ini.
Sementara anggarannya sendiri jika diterima akan dikucur oleh Kementerian Pekerjaan Umum (PU) lewat Dirjen Sumber Daya Air (SDA).
Ia membeberkan peningkatan kapasitas air ini setidaknya akan meningkatkan pengairan di kawasan. Beberapa daerah yang dialiri oleh bendungan ini mayoritas berada di wilayah selatan Bone.
“Dari Tonra, Salomekko, Kajuara, itu kan masuk semua daerah genangan potensial untuk dialiri, kemudian Ponre, Libureng, Kahu,” ujarnya.
Ia mengatakan, total ada sekitar 9 ribu hektare lahan di kawasan itu, yang mana 6 ribu di antaranya merupakan kawasan fungsional dan 3 ribu di antaranya potensial.
Jika Bendungan Sanrego bisa dibangun, maka 3 ribu kawasan potensial ini akan bisa ikut dialiri dengan optimal.
“9 ribu hektare itu total daerah irigasi yang dialiri Bendungan sanreog bisa. Dan ini bisa lebih dari itu,” jelasnya.
Sementara itu, Pj Sekretaris Daerah Bone, Andi Saharuddin mengatakan dukungannya untuk mendorong swasembada pangan di Bone lewat optimalisasi lahan ini sangat dibutuhkan.
Dari data yang dihimpun, di Bone setidaknya ada sekitar 60 ribu hektare sebagai kawasan tada hujan. Daerah-daerah ini hanya bisa memproduksi 1 kali panen saja setahun.
Dengan adanya optimalisasi pengairan, peningaktan masa panen juga ikut bisa ditingkatkan, dan mendorong lahan bisa lebih produktif lagi.
Andi Saharuddin menegaskan, sebagai salah satu kabupaten terbesar di Sulawesi Selatan dengan 27 kecamatan dan 328 desa/kelurahan, Bone memerlukan perhatian khusus untuk mengoptimalkan setiap jengkal lahannya.
“Potensi pertanian kami sangat besar, tetapi butuh pendekatan teknis dan dukungan infrastruktur untuk memastikan produksi padi meningkat signifikan,” ujarnya. (Redaksi)






