Musda Golkar Sulbar: Pertarungan Sengit Aras vs Samsul

Foto: Ketua DPD Partai Golkar Kabupaten Polewali Mandar, Samsul Mahmud (kiri) dan Ketua DPD Partai Golkar Provinsi Sulawesi Barat, Aras Tammauni (kanan).

POLMAN, ENEWS •• Musyawarah Daerah (Musda) Golkar diprediksi akan menjadi ajang persaingan ketat antara dua kandidat kuat: Ketua DPD Golkar Sulawesi Barat, Aras Tammauni, dan Ketua DPD Golkar Polewali Mandar (Polman), Samsul Mahmud.

Direktur Logos Politika, Maenunis Amin, menyoroti peran signifikan Aras Tammauni dalam membangkitkan kembali kejayaan Golkar setelah era kepemimpinan Anwar Adnan Saleh (AAS).



“Aras memiliki peran penting dalam memulihkan Golkar pasca-AAS. Keberhasilannya membawa Golkar kembali memimpin DPRD Sulbar pada tahun 2024, setelah dua kali dikalahkan oleh Demokrat pada Pileg 2014 dan 2019, menjadi bukti nyata,” kata Maenunis kepada Enewsindonesia.com, Sabtu (25/10/2025).

Di sisi lain, Samsul Mahmud dipandang sebagai tokoh muda Golkar yang berhasil memimpin DPD Golkar Polman.

“Samsul bukan wajah baru di Golkar. Ia telah aktif sebagai Bendahara dan kemudian menjabat sebagai Ketua DPD Golkar Polman menggantikan Andi Ibrahim Masdar (AIM) saat Aras masih berada di Demokrat. Samsul bahkan memberikan dukungan penuh kepada Aras untuk menjadi Ketua DPD Golkar Sulbar,” jelas Maemunis.

“Prestasinya dalam memimpin Golkar tidak bisa dianggap remeh. Samsul adalah Ketua DPD Golkar pertama di Sulbar yang meraih treble winner pada Pileg 2019 dan 2024, serta Pilkada Polman 2024,” lanjutnya.

Meskipun mengakui kompetensi keduanya dalam memimpin Golkar, Maenunis melihat adanya perbedaan motivasi antara Aras dan Samsul.

“Selain berupaya mempertahankan dominasinya sebagai tokoh senior, Aras tentu ingin memastikan bahwa konsolidasi Golkar Sulbar tetap berada di bawah kendali wilayah Mamuju Tengah. Sementara itu, Samsul menginginkan Golkar yang lebih terbuka dan lebih optimal sebagai partai kader,” ungkap Maenunis.

Pengalaman Pilkada 2024 menjadi pelajaran penting bagi Samsul untuk lebih mengoptimalkan peran Golkar sebagai partai kader yang konsisten.

“Upaya penjegalan dirinya dalam Pilkada 2024 menjadi motivasi bagi Samsul untuk menantang Aras. Samsul tampaknya ingin mendorong Golkar agar lebih konsisten sebagai partai kader dengan menghapus sistem top-down yang dianggapnya diskriminatif terhadap kader,” imbuhnya.

Menurutnya, dinamika rivalitas yang terjadi di Golkar hanyalah riak kecil yang akan berakhir dengan solusi yang baik.

“Golkar tumbuh besar dari dinamika persaingan. Saya yakin prinsip pragmatisme dan kemampuan beradaptasi yang dimiliki Golkar akan membawa Musda ini berakhir dengan happy ending,” pungkas Maenunis.

Jurnalis: Hasbi Waluyo

Editor: Abdul Muhaimin





Tinggalkan Balasan