ENEWS, MAKASSAR •• Malam akhir pekan di kawasan Jalan Dr Wahidin Sudirohusodo, Kelurahan Ende, Kecamatan Wajo, mendadak berubah riuh. Sekitar pukul 20.00 WITA, Sabtu (8/11/2025), asap tebal mulai membubung dari lantai tiga sebuah ruko penjualan mesin dan perkakas.
Api yang awalnya tampak seperti kilatan kecil, perlahan membesar seperti lidah merah yang menelan bangunan itu sedikit demi sedikit.
Seorang warga yang kebetulan melintas lebih dulu menyadari kilau api itu. Tanpa menunggu lama, ia bergegas menghubungi Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (Damkarmat) Kota Makassar.
“Tadi cuma asap kecil, lama-lama besar sekali,” ujar seorang warga, sambil menunjuk ke arah atap ruko yang kini menghitam.
Tak butuh waktu lama, bunyi sirine kendaraan pemadam pun terdengar mendekat. Belasan unit mobil Damkar diterjunkan.
Barisan petugas berhelm merah langsung bergerak cepat, namun mereka sempat terkendala akses masuk karena pintu ruko dalam keadaan terkunci.
Begitu pintu utama berhasil dibuka, petugas langsung menyusuri bagian dalam bangunan, menembus kepulan asap yang pekat.
Polisi dari unit Samapta dan Lantas ikut membantu mengatur kerumunan warga yang terus berdatangan. Suasana di sekitar lokasi padat, sebagian warga merekam dengan telepon, sebagian lagi hanya berdiri tegang, menatap api yang menjalar.
Proses pemadaman berlangsung dalam situasi penuh kehati-hatian. Petugas harus memastikan api tidak merembet ke bangunan lain, mengingat ruko berada di area padat pertokoan.
Hingga api berhasil dijinakkan, belum ada laporan korban jiwa. Kerugian materil diperkirakan cukup besar mengingat bangunan berlantai tiga itu menyimpan berbagai mesin dan alat perkakas.
Sementara itu, dugaan awal penyebab kebakaran mengarah pada korsleting arus listrik. Namun penyelidikan tetap dilakukan untuk memastikan sumber api secara detail.
Malam itu, di tengah kerumunan warga dan cahaya lampu rotator pemadam, asap perlahan mulai menipis. Yang tersisa hanyalah fasad ruko yang menghitam, bau hangus yang pekat, dan gumam-gumam warga yang masih mencoba memahami betapa cepatnya api bisa mengubah suasana.
JURNALIS: Angki Perdana






