ENEWSINDONESIA.COM, MAKASSAR ▪︎ Himpunan Mahasiswa Program Studi D3 Perpajakan (Himapa), Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Muhammadiyah (Unismuh) Makassar menggelar dialog keagamaan dengan mengangkat Tema “Problematika Ummat di Era Moderenisasi”, pada Kamis (1/2/2024) di Minihall Lt.8, Kampus Unismuh Makassar.
Hadir sebagai pemateri dalam kegiatan tersebut, Wakil Dekan IV FEB Unismuh Makassar, Dr. Sulaiman Masnan S.Pd.I.,M.Pd.I dan Sekretaris Bidang Organisasi PC IMM Kota Makassar, Edi Suyuti S.Ak.
Kegiatan ini turut dihadiri oleh beberapa lembaga kemahasiswaan yang tertarik untuk menerima ilmu dari kedua narasumber tersebut.
Wakil Dekan III FEB Unismuh Makassar, Abdul Muthalib S.E.,M.M yang membuka kegiatan tersebut dalam sambutannya menjelaskan bahwa kegiatan itu adalah salah satu cara untuk bisa lebih memperdalam ilmu agama.
“Apalagi terkait problematika ummat di era modernisasi ini. Menghadirkan kedua narasumber yang luar biasa ini, itu sangat memberikan wadah untuk membuka pikiran kita tentang hal-hal apa yang sebenarnya harus kita hadapi pada era moderenisasi ini,” tuturnya.
Hal senada juga disampaikan Ketua Umum HIMAPA FEB Unismuh Makassar, Irwansyah. Menurutnya, pada era modernisasi saat ini telah membawa manusia pada kemajuan peradaban dan teknologi.
“Era modernisasi mulai dari nilai moral, etika dan cara hidup berganti begitu cepat menjadi tatanan baru. Salah satu persoalan krusial sebagai dampak proses modernisasi yang terkait dengan kehidupan keagamaan adalah makin menipisnya ruang religiusitas atau yang bersifat keagamaan dalam konteks kehidupan manusia,” terangnya.
Itu sebabnya, lanjut Irwansyah, mengapa Himapa FEB Unismuh Makassar sepakat untuk mengangkat tema Problematika Umat di Era Modernisasi.
“Agar kita bisa memahami dan siap untuk menghadapi tantangan zaman dalam konteks keagamaan itu tadi,” imbuhnya.
Sementara itu, Edi Suyuti S.Ak selaku narasumber pada kegiatan tersebut memaparkan bahwa zaman sekarang banyak pertikaian yang menyangkut isu agama.
Dikatakannya, modernisasi beragama berkaitan dengan orang yang memandang agamanya dan toleransi terhadap agama orang lain.
Lebih lanjut disampaikannya, modernisasi beragama diartikan sebagai jalan pertengahan atau sikap tidak berlebihan. Modernisasi beragama dan isu agama garis besarnya yaitu toleransi. Toleransi sudah dilakukan sejak zaman Nabi Muhammad S.A.W.
“Mengapa islam dikatakan istimewa?
Karena Allah memberikan pengetahuan melalui Al-Quran dan umat islam meyakini serta menjalankannya.
Sedangkan yahudi dikatakan sebagai orang yang dimurkai karena mereka lebih mengetahui terkait ketuhanan tetapi tidak meyakini dan menjalankannya. Begitupun dengan Nasrani dianggap sesat karena mereka semangat ingin meyakini dan menjalankan tetapi tidak memiliki cukup pengetahuan,” paparnya.
Wakil Dekan IV, Dr. Sulaiman Masnan juga melanjutkan bahwa ummat Islam berada di tengah-tengah antara tradisional dan sekuler yang dimana ummat Islam menghargai agama, menghargai perbedaan dan menghargai keluarga tetapi umat islam memiliki IQ yang rendah dari pada negara-negara dengan religius rendah.
“Umat islam terbelakang karena belum bisa menguasai sains dan ilmu pengetahuan. Ummat islam juga memiliki masalah dalam akhlak/karakter dan nilai budaya. Ummat islam berada di suasana problem, yaitu, pengembangan iptek, penanaman nilai dan moralitas,” kata dia.
Ditambahkannya, ada kecendrungan di masyarakat yang tidak mau terikat tetapi menganut kepercayaan tersebut.
“Ummat Islam saat ini berada dalam kondisi problem modernisasi, tantangan global dan kontekstualisasi ijtihad,” pungkas Sulaiman Masnan. (*)






