Harga Sawit di Mamuju Terjun Bebas, Petani Menjerit

Ketgam: Riska Pile, petani sawit di Kecamatan Sampaga, Kabupaten Mamuju, menunjukkan tanaman sawit miliknya di tengah anjloknya harga Tandan Buah Segar (TBS) yang kini menyentuh Rp1.000 per kilogram.
Ketgam: Riska Pile, petani sawit di Kecamatan Sampaga, Kabupaten Mamuju, menunjukkan tanaman sawit miliknya di tengah anjloknya harga Tandan Buah Segar (TBS) yang kini menyentuh Rp1.000 per kilogram.

ENEWS, MAMUJU ••》Petani kelapa sawit di Kabupaten Mamuju menjerit akibat anjloknya harga Tandan Buah Segar (TBS) dalam beberapa hari terakhir. Penurunan harga yang terjadi secara drastis dinilai mengancam perekonomian masyarakat yang selama ini bergantung pada sektor perkebunan sawit.

Harga TBS di tingkat pengepul tercatat terus merosot setiap hari. Dari sebelumnya berada di kisaran Rp2.400 per kilogram, kini turun hingga menyentuh Rp1.000 per kilogram. Bahkan, sejumlah pengepul disebut sudah membeli di bawah harga tersebut.

Kondisi ini juga menyebabkan banyak timbangan pengepul tutup sementara.
Situasi tersebut membuat petani semakin terpukul di tengah tekanan ekonomi masyarakat yang belum stabil.

Tingginya harga pupuk dan kebutuhan pokok dinilai semakin memperberat beban petani.

Salah seorang petani sawit di Mamuju, Riska Pile, mengaku kecewa dengan penurunan harga yang terjadi secara tiba-tiba.

“Baru beberapa hari lalu harga masih hampir Rp3.000 per kilogram, sekarang tinggal sekitar Rp1.000. Kami hidup dari sawit. Kalau harga terus turun seperti ini masyarakat bisa makin susah. Biaya pupuk mahal, kebutuhan hidup juga tinggi,” jelas Riska saat berbincang bersama jurnalis ENews Indonesia, Selasa (26/5/2026).

Menurutnya, sektor perkebunan sawit selama ini menjadi tulang punggung ekonomi masyarakat, khususnya di Kecamatan Sampaga.

Stabilnya harga sawit tidak hanya berdampak pada petani, tetapi juga menggerakkan sektor usaha lain seperti pedagang kecil, jasa angkutan, pelaku UMKM, hingga membuka lapangan pekerjaan bagi buruh panen sawit.

Petani khawatir jika penurunan harga terus terjadi, kondisi ekonomi masyarakat akan semakin melemah.

“Kami berharap ada perhatian serius dari pemerintah daerah maupun pemerintah pusat. Jangan sampai petani terus menjadi korban karena harga yang tidak stabil,” tambahnya. (Red)





Tinggalkan Balasan