Suara dari Balustrade: Membaca Kembali Sejarah yang Terkunci di Penjara Lama Watampone

Ketgam: Sutradara sekaligus owner Mario Center, Muhammad Thahir, bersama para pemain dan kolaborator usai pertunjukan teater Suara-Suara dari Balustrade di Penjara Lama Watampone, Kabupaten Bone, Senin (28/9/2026). Pertunjukan tersebut mengangkat nilai sejarah, budaya, dan kearifan lokal Bone. (Dok. ENews)
Ketgam: Sutradara sekaligus owner Mario Center, Muhammad Thahir, bersama para pemain dan kolaborator usai pertunjukan teater Suara-Suara dari Balustrade di Penjara Lama Watampone, Kabupaten Bone, Senin (28/9/2026). Pertunjukan tersebut mengangkat nilai sejarah, budaya, dan kearifan lokal Bone. (Dok. ENews)

ENEWS, BONE ••》Malam mulai turun di Kota Watampone. Namun, Penjara Lama Watampone justru kembali hidup.

Bangunan tua yang selama bertahun-tahun lebih banyak menyimpan kesunyian itu, Senin malam, 28 September 2026, berubah menjadi panggung pertunjukan teater.

banner 728x250

Enam adegan dimainkan di sejumlah ruang dan sudut bangunan tua tersebut. Para pemain dari lintas generasi berkolaborasi menghadirkan pertunjukan “Suara-Suara dari Balustrade”, produksi Mario Center yang diadaptasi dari buku Pappaseng Ri Elompugi karya Prof. Dr. H. Andi Sukri Syamsuri, M.Hum.

Pertunjukan itu tidak sekadar menghadirkan seni peran. Ia mencoba membuka kembali ingatan tentang ruang yang pernah menjadi bagian dari perjalanan panjang sejarah Bone.

Bupati Bone Andi Asman Sulaiman bersama rombongan menjadi salah satu penonton. Mereka diajak berkeliling menyaksikan adegan demi adegan yang berlangsung di area Penjara Lama.

Salah satu adegan menampilkan seseorang bermain ayunan di atas pohon sembari membacakan puisi. Adegan lainnya menggambarkan pesta panen yang tiba-tiba terusik oleh kehadiran buaya.

Di ruang dan sudut lainnya, para pemain menghadirkan cerita dengan pendekatan teatrikal yang memadukan seni, budaya, sejarah, serta nilai-nilai kearifan lokal.

Pertunjukan kemudian mencapai salah satu bagian penting ketika Kiyai Kusen, S.Ag., MA, Ph.D., atau Kiyai Cepu, Wakil Ketua LSB PP Muhammadiyah, menyampaikan wejangan mengenai hubungan agama dan budaya dalam bentuk adegan teater.

Pesan itu disampaikan di tengah para pejabat dan masyarakat Bone yang hadir malam itu.

Balustrade dan Ingatan Masa Lalu

Sang sutradara sekaligus pemilik Mario Center, Muhammad Thahir, mengatakan gagasan pertunjukan berawal ketika dirinya melakukan eksplorasi dan survei terhadap Penjara Lama Watampone.

Menurutnya, bangunan yang dibangun pada masa pemerintahan Hindia Belanda itu bukan sekadar susunan tembok tua dan pilar yang tersisa.

Ada cerita yang tersimpan di baliknya.

“Ketika saya mengadakan eksplorasi, kemudian survei, ternyata di penjara lama itu yang dibangun tahun 1918, saya sangat yakin bahwa balustrade seperti itu pasti menyimpan banyak cerita masa lalu yang sangat penting untuk disampaikan kepada generasi-generasi selanjutnya, khususnya anak muda Bone,” kata Muhammad Thahir.

Menurut dia, generasi muda perlu mengetahui perjalanan masa lalu Kota Watampone, termasuk berbagai peristiwa yang pernah terjadi di ruang-ruang yang kini mulai kehilangan fungsi aslinya.

Menariknya, pemain dalam pertunjukan tersebut berasal dari berbagai kelompok usia.

Ada generasi Alfa, Gen Z, milenial hingga generasi yang lebih tua.

Komposisi itu sengaja dibangun untuk menggambarkan keberlanjutan proses pewarisan pengetahuan dan kebudayaan.

“Orang tua yang menasihatkan, mewariskan kepada anak muda, anak muda yang mengeksekusi dan menceritakannya kepada generasi selanjutnya,” ujarnya.

Bagi Thahir, balustrade tidak semestinya hanya dipandang sebagai bagian dari bangunan tua.

Lebih jauh, balustrade dapat menjadi titik temu aktivitas kebudayaan, sejarah dan kearifan lokal.

“Itulah yang saya angkat dari adaptasi buku Profesor Andis, Pappaseng Ri Elompugi,” katanya.

Dibangun Setelah Rumpa’na Bone

Di balik pertunjukan tersebut, Penjara Lama Watampone menyimpan sejarah panjang.

Sejumlah warga lokal yang dihimpun ENews Indonesia menuturkan bangunan tersebut dibangun sekitar 1918, setelah peristiwa Rumpa’na Bone.

Pembangunannya disebut berkaitan dengan upaya pemerintahan Hindia Belanda memperbaiki sistem pemasyarakatan yang sebelumnya berada di kawasan Salekoe, yang kini berada di sekitar Jalan MH Thamrin dan Kantor Kecamatan Tanete Riattang.

Bangunan tersebut kemudian digunakan selama puluhan tahun sebelum tidak lagi difungsikan sebagai lembaga pemasyarakatan pada akhir dekade 1980-an.

Meski fungsi penjaranya telah berakhir, tembok dan ruang-ruang yang tersisa masih menyimpan jejak perjalanan sejarah Bone dan Sulawesi Selatan.

Salah satu nama yang disebut pernah menjadi penghuni penjara tersebut adalah Opu Daeng Risadju, tokoh perempuan bangsawan Luwu yang kemudian ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional.

Opu Daeng Risadju dikenal sebagai tokoh pergerakan di Tanah Luwu dan terlibat dalam perjuangan politik melalui Partai Sarekat Islam Indonesia (PSII).

Pada masa revolusi, aktivitas politiknya membuat Opu Daeng Risadju diburu NICA. Ia ditangkap pada 1946 dan dibawa dari Palopo menuju Watampone dengan berjalan kaki sebelum kemudian ditahan di Penjara Watampone.

Kisah Kepala Penjara yang Tewas

Penjara Lama Watampone juga menyimpan kisah Jopie Risakotta Kleewater, yang disebut pernah menjabat sebagai kepala rumah tahanan wilayah Watampone dan sekitarnya.

Wilayah tugasnya ketika itu disebut mencakup Wajo, Soppeng, Sinjai hingga Bantaeng.

Menurut penuturan warga yang menghimpun cerita dari saksi hidup, sekitar 1965 terjadi ketegangan setelah penjara menampung sekitar 40 tahanan yang disebut berkaitan dengan PKI dan dititipkan oleh Polisi Militer (POM).

Sekelompok masyarakat kemudian mendatangi penjara dan berusaha masuk.

Kleewater disebut berupaya menghalau mereka. Namun, situasi akhirnya tidak terkendali.

Massa mendobrak pintu penjara. Dalam peristiwa tersebut, Kleewater disebut tewas setelah diserang menggunakan senjata tajam.

Warga menuturkan jasad Kleewater sempat berada di lokasi selama beberapa hari karena tidak ada yang berani memindahkannya.

Jasadnya kemudian dibawa menggunakan gerobak menuju kawasan Jalan Bajoe, yang kini berada di sekitar depan Mapolres Bone, sebelum dimakamkan bersama korban lainnya.

Kisah tersebut disebut pernah ditulis Andy F Noya atau Kick Andy dalam buku biografinya, Andy Noya: Kisah Hidupku.

Jejak Kaseng, Terpidana Mati

Cerita lainnya datang dari sosok bernama Kaseng, yang dalam penuturan warga dikenal dengan julukan “sang pengjagal”.

Kaseng disebut menjalani hukuman setelah terlibat kasus pembunuhan terhadap seorang pejabat di Kabupaten Bone yang disebut berkaitan dengan persoalan siri’.

Pada 1982, setelah menjadi buronan aparat, Kaseng disebut ditangkap di wilayah Larompong.

Ia kemudian dibawa ke Watampone dan dijatuhi hukuman mati.

Namun, hukuman tersebut tidak pernah terlaksana. Kaseng disebut meninggal dunia di dalam tahanan karena sakit.

Warga setempat menyebut ruang sel tempat Kaseng meninggal masih dapat ditemukan di kompleks Penjara Lama Watampone.

Cerita-cerita tersebut menunjukkan bahwa Penjara Lama bukan hanya menyimpan struktur fisik berupa tembok, pintu dan ruang tahanan.

Di dalamnya terdapat ingatan tentang orang-orang, konflik, perjuangan, kekuasaan, bahkan perubahan sosial yang pernah terjadi.

Dari Bangunan Tua Menjadi Ruang Budaya

Kini, muncul harapan agar Penjara Lama Watampone tidak dibiarkan menjadi bangunan tua yang perlahan kehilangan jejaknya.

Sejumlah warga berharap rencana pemerintah menjadikan kawasan tersebut sebagai destinasi budaya dapat dilanjutkan melalui kajian sejarah dan restorasi bangunan.

Sebagian struktur bangunan, termasuk tembok sejumlah ruang tahanan, disebut masih bertahan.

Restorasi dengan tetap mempertahankan karakter arsitektur aslinya dapat membuka kemungkinan baru: menjadikan Penjara Lama sebagai ruang edukasi sejarah sekaligus destinasi budaya di pusat Kota Watampone.

Gagasan itu sejalan dengan pesan yang coba dibawa melalui pertunjukan Suara-Suara dari Balustrade.

Sejarah tidak harus selalu hadir melalui buku.

Ia bisa dibacakan, dimainkan, dipentaskan, dan diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Malam itu, Penjara Lama Watampone memang hanya menjadi panggung sederhana.

Tetapi dari tembok-tembok tuanya, para pemain mencoba membuat suara masa lalu kembali terdengar.

Suara tentang Bone, tentang manusia yang pernah datang dan pergi, tentang budaya yang diwariskan, dan tentang sebuah bangunan tua yang masih memiliki cerita untuk generasi hari ini.

Kini tinggal bagaimana cerita itu dirawat, ditelusuri, dan dipastikan kebenaran sejarahnya agar tidak berhenti sebagai kenangan lisan.

Sebab ketika sebuah bangunan tua kehilangan ceritanya, yang tersisa hanyalah tembok.

Namun ketika ceritanya dirawat, ia dapat berubah menjadi ruang belajar bagi generasi berikutnya. (Redaksi)





Tinggalkan Balasan