Bone Riolo, Ruang Nostalgia di Tengah Gau Maraja 2026

Foto: Stand Bone Sepeda Tua (Bonesta) di momen Gau Maraja 2026. (ENews)
Foto: Stand Bone Sepeda Tua (Bonesta) di momen Gau Maraja 2026. (ENews)

ENEWS, BONE ••》Festival Gau Maraja 2026 tak hanya menghadirkan pertunjukan seni dan budaya agraris. Di salah satu titik penyelenggaraannya, kawasan Tanah Bangkalae yang selama festival berganti nama menjadi Bone Riolo, pengunjung diajak sejenak menengok suasana Bone tempo dulu.

Gau Maraja 2026 berlangsung 25–30 September 2026 dengan tema “Simfoni Lumbung: Merayakan Budaya dan Pangan”. Festival ini tersebar di sembilan titik atau venue, dengan beragam sajian seni, budaya, kuliner tradisional hingga aktivitas komunitas.

banner 728x250

Di kawasan Bone Riolo, deretan tenan menghadirkan jajanan tradisional Bugis atau beppa tau riolo, kerajinan songkok Recca, serta berbagai atraksi yang menghidupkan kembali nuansa masa lalu.

Namun, ada satu tenan yang tampil berbeda.

Bukan menjual kue tradisional, tenan BONESTA (Bone Sepeda Tua) justru menghadirkan ruang foto bernuansa tempo dulu. Di dalamnya terdapat koleksi benda-benda antik, sepeda tua, peralatan komunikasi zaman dahulu, hingga foto Tanah Bangkalae pada 1934.

Konsep tersebut sontak menjadi salah satu daya tarik pengunjung. Sejak pembukaan Bone Riolo hingga malam ketiga pelaksanaan, stand BONESTA terus dipadati warga yang ingin mengabadikan momen.

Antrean pengunjung terlihat silih berganti. Menariknya, yang datang bukan hanya kalangan orang tua yang ingin bernostalgia, tetapi juga anak-anak.

“Mulai pembukaan di Bone Riolo sampai malam ketiga, kami dibanjiri pengunjung. Bukan cuma kalangan tua, anak-anak umur tujuh tahun juga ikut berlomba-lomba untuk berfoto,” kata Akmal Kimal, penanggung jawab stand BONESTA kepada ENews Indonesia, Selasa (28/8/2026).

Menurut Akmal, pihaknya menyiapkan dua ikon yang paling banyak diminati pengunjung, yakni Menara BONESTA + Gau Maraja dan Bone Riolo, serta ruang tamu dengan konsep suasana rumah tempo dulu.

Konsep itu membuat stand BONESTA bukan sekadar tempat pameran koleksi antik. Ruang tersebut menjadi titik pertemuan antara generasi sekarang dengan berbagai benda dan visual yang merekam kehidupan Bone pada masa lampau.

Sementara itu, Ansar Mulkin, pendiri BONESTA sekaligus pemilik koleksi barang antik yang dipajang di Bone Riolo, mengatakan keterlibatan komunitasnya dalam Gau Maraja 2026 tidak hanya sebagai pelaksana karnaval sepeda tua.

“BONESTA kali ini bukan cuma menjadi pelaksana karnaval, tetapi juga memberikan tempat untuk foto-foto dengan barang antik,” ujar Ansar.

Sebelumnya, BONESTA turut memberikan tontonan melalui karnaval sepeda tua dalam rangkaian Gau Maraja 2026. Setelah karnaval, perhatian pengunjung kembali tertuju ke stand mereka di Bone Riolo.

Di tengah festival yang mengangkat budaya dan pangan tersebut, kehadiran BONESTA menghadirkan warna berbeda. Barang-barang yang mungkin bagi sebagian orang hanya dianggap benda lama, justru menjadi media untuk mengenalkan kembali sejarah dan suasana kehidupan masyarakat Bone pada masa lalu.

Bone Riolo akhirnya bukan sekadar nama baru untuk kawasan Tanah Bangkalae selama festival. Tempat itu menjelma menjadi ruang nostalgia: tempat jajanan tradisional, kerajinan, sepeda tua, benda antik, dan cerita masa lalu bertemu dengan generasi masa kini.

Dan di antara keramaian Gau Maraja 2026, satu hal terlihat jelas: masa lalu ternyata masih punya cara untuk menarik perhatian generasi hari ini.





Tinggalkan Balasan